Marhaban
ya Ramadhan, tamu nan agung segara datang. Bulan penuh rahmat, ampunan dan
maghirah dari Allah SWT. Kebahagiaan menyambut datangnya Ramadhan merupakan
salah satu manifestasi dari iman dan syukur sebagai hamba. Kegembiraan tersebut
menjauhkan jasad dari api neraka. Allah SWT berfirman : "Katakanlah
(Muhammad), 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka
bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus
ayat 58). Dalam ayat lain Allah juga menerangkan tentang kemuliaan bulan suci
Ramadhan,"...Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan
Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)..." (QS. Al-Baqarah
ayat 185). Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa, kebahagiaan menyambut
datangnya Ramadhan adalah wujud konkrit berimannya seorang hamba kepada
TuhanNya, juga kesempatan meraih ampunan serta keberkahan Tuhan pemilik
kehidupan. Ramadhan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah, disebut pula
sebagai Syahrul Mubarak (bulan penuh berkah), Syahrush Shiyam (bulan puasa),
dan Syahrul Qur'an (bulan diturunkannya Al-Qur'an). Ini menandakan betapa
merugi seorang hamba jika tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan
amal sholeh, ibarat berniaga inilah masa kita mencari keuntungan atau
penyimpanan (storage) untuk kehidupan kekal kelak. Karena hanya dibulan
Ramadhan Allah melipatgandakan pahala. Rasulullah pun menjelaskan,
"Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan
suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan
pada bulan lainnya. Dan, barangsiapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan
itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada
bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan." (HR.
Bukhari-Muslim).” Lalu seperti apa persiapan kita menjelang dan memasuki
Ramadhan, agar momentum istimewa ini tidak berlalu tanpa kebaikan ?
Pertama
persiapan mental dan fisik. Kita harus memahami Ramadhan bukan sekedar menahan
lapar dahaga saja, bukan hanya sebuah aktifitas tahunan untuk menjadikan hati
berjilbab dengan penuh amal sholeh. Lebih dari itu Ramadhan adalah waktu
terbaik melakukan introspeksi diri dan meluaskan interaksi kebaikan pada
sesama. Kadang kita lalai memanfaatkan waktu, kesempatan melakukan amal sholeh
dengan aktifitas dunia yang tidak pernah ada habisnya. Atau hal yang sepele
tetapi mempengaruhi psikologis; banyak berkeluh kesah, sehingga hidup terasa
hambar dan kurang bermakna. Kebahagiaan terasa jauh, padahal salah satu kunci
bahagia menurut Ali bin Abi Thalib adalah hidup dengan kesederhanaan walaupun
bergelimang harta. Kedua, Mengisi dengan amaliyah Ramadhan, yakni
menyambut dengan antusiasme untuk melakukan shalat tarawih, tadarus, sedekah,
dan puasa dengan penuh keikhlasan. Kita harus berusaha konsisten dengan hasil,
bahwa Ramadhan adalah kesempatan yang Allah berikan untuk kita membersihkan
hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ketiga, menyambut
Ramadhan dengan hati gembira. Mengapa ini penting untuk kita persiapkan, karena
hati yang bahagia akan membuat ibadah menyenangkan serta ringan, meningkatkan
optimisme berwujud keikhlasan tanpa mengharapkan pujian hamba Allah. Kemudian membuat
kualitas ibadah kita pun berkualitas sebab dilakukan dengan senang, fokus
menjadi khusyuk pemacu semangat ibadah. Keempat mempersiapkan kesehatan
diri dan kebersihan lingkungan. Rasulullah mengingatkan, agar kita tidak
membuang waktu sehat tanpa ada aktifitas bermanfaat dan bernilai ibadah sebelum
datang masa sakit.
Dalam
pepatah bijak arab juga dijelaskan "Kesehatan adalah mahkota di atas
kepala orang-orang yang sehat, yang tidak dapat dilihat kecuali oleh
orang-orang yang sakit". Peringatan Rasulullah dan pepatah arab
diatas harus menjadi alarm kita untuk senantiasa berupaya memanfaatkan nikmat
sehat. Kita harus memaksakan diri dengan pola hidup yang juga teratur, misalnya
konsumsi makan minum yang halal lagi baik, menjaga kualitas dan kuantitas
ibadah. Khusus di bulan Ramadhan "memaksakan diri" dengan konotasi
positif tidak berlebih-lebihan makan minum (misalnya) kecuali dalam
memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Semoga ibadah Ramadhan tahun ini
lebih baik dari sebelumnya. Lebih memberikan kita rasa untuk tidak lagi
melalaikan waktu tetapi sebaliknya merasa takut menyia-nyiakan kesempatan
disisa hidup yang kita pun tidak pernah tahu kapan hingga Allah memanggil melalui
Malaikat Izrail.
Sumber : https://suaramuhammadiyah.id

😇
ReplyDelete