"Eksperimen
digitalisasi" dalam konteks pendidikan di Norwegia (dan negara Skandinavia
lainnya) merujuk pada kebijakan penerapan
teknologi digital secara besar-besaran dan cepat ke dalam sistem sekolah dan perguruan tinggi
yang dilakukan sejak pertengahan 2000-an. Disebut "eksperimen" karena
kebijakan ini dilakukan secara masif sebelum ada penelitian jangka panjang yang
memadai mengenai dampaknya terhadap kognisi dan kemampuan belajar manusia. Pemerintah
Norwegia mendorong setiap siswa dan mahasiswa untuk memiliki satu perangkat
digital (laptop, tablet, atau Chromebook). Tujuannya adalah menjadikan
keterampilan digital sebagai "keterampilan dasar" setara dengan
membaca, menulis, dan berhitung. Eksperimen ini melibatkan penggantian buku
teks cetak dengan e-book, platform pembelajaran daring (Learning Management
Systems), dan aplikasi pendidikan. Harapannya, akses informasi menjadi lebih
cepat, murah, dan interaktif. Teknologi dianggap sebagai "solusi
ajaib" yang bisa mempersonalisasi pembelajaran. Peran pengajar bergeser
dari sumber ilmu menjadi fasilitator, sementara mahasiswa diharapkan lebih
mandiri dengan perangkat digitalnya. Mengapa kini dianggap sebagai
"eksperimen yang gagal" ?, setelah berjalan hampir dua dekade, hasil
evaluasi menunjukkan beberapa kenyataan yang tidak terduga sebelumnya yaitu : literasi
menurun : skor membaca (seperti dalam
tes pirls) justru turun, bukan naik, lalu terjadi kesenjangan sosial : digitalisasi ternyata tidak otomatis menutup
celah prestasi; justru anak-anak yang kurang bimbingan semakin tertinggal
karena distraksi perangkat, dan kelelahan digital : mahasiswa merasa jenuh dengan layar (screen
fatigue) dan merindukan interaksi fisik dengan materi yang bisa mereka pegang
dan corat-coret.
Saat
ini, Norwegia tidak benar-benar membuang teknologi, melainkan mengakui bahwa
digitalisasi total adalah sebuah eksperimen yang memiliki efek samping. Mereka
kini menerapkan kebijakan "Hybrid"
, di mana buku cetak kembali menjadi instrumen utama untuk pemahaman mendalam,
sementara teknologi digunakan hanya untuk tugas-tugas spesifik yang memang
membutuhkan daya komputasi. Langkah perguruan tinggi dan sistem pendidikan di
Norwegia (serta tetangganya, Swedia) untuk kembali memprioritaskan buku cetak
merupakan respon terhadap evaluasi besar-besaran mengenai dampak digitalisasi
pendidikan selama satu dekade terakhir. Berikut adalah alasan utama mengapa
mereka kembali ke buku fisik:
1.
Penurunan kemampuan membaca dan memahami (Literasi), hasil tes internasional
seperti PIRLS ( Progress in International Reading Literacy
Study) menunjukkan adanya tren penurunan kemampuan membaca di negara-negara
Skandinavia. Pemahaman Mendalam : penelitian
menunjukkan bahwa membaca di layar cenderung membuat orang melakukan
"scanning" (membaca cepat) daripada membaca mendalam. Retensi
Informasi : mahasiswa ditemukan lebih
sulit mengingat detail kronologis dan argumen yang kompleks saat membaca format
digital dibandingkan buku cetak.
2.
Gangguan konsentrasi (Digital Distraction), perangkat digital seperti tablet
dan laptop membawa risiko distraksi yang tinggi. Multitasking : mahasiswa sering kali tergoda membuka
notifikasi, media sosial, atau tab lain saat belajar. Fokus Kognitif : membaca buku fisik menciptakan lingkungan
"analog" yang lebih tenang, sehingga otak bisa fokus sepenuhnya pada
satu materi tanpa gangguan teknis.
3.
Keunggulan neurologis tulisan tangan, selain membaca buku cetak, Norwegia juga
kembali mendorong penggunaan pena dan kertas. Pakar neuropsikologi dari Norwegian University of Science and
Technology (NTNU), Prof. Audrey van der Meer , menemukan bahwa menulis
dengan tangan menciptakan pola otak yang jauh lebih kompleks dan sinkron
dibandingkan mengetik di keyboard. Aktivitas motorik saat menulis tangan
membantu "menanamkan" informasi lebih kuat ke dalam ingatan jangka
panjang.
4.
Dampak kesehatan fisik dan mental : ketergantungan pada layar (screen time)
yang berlebihan mulai dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti kesehatan mata,
penggunaan layar dalam waktu lama menyebabkan kelelahan mata (digital eye
strain). Kualitas Tidur : paparan cahaya
biru (blue light) dari perangkat digital mengganggu siklus tidur mahasiswa,
yang pada akhirnya menurunkan performa akademik.
5. Rekomendasi para ahli, pemerintah Norwegia dan otoritas pendidikan setempat mendengarkan kritik dari para guru dan peneliti yang merasa bahwa "eksperimen digitalisasi" telah melangkah terlalu jauh. Mereka tidak menghapus teknologi sepenuhnya, namun menggeser perannya menjadi alat pendukung , bukan pengganti utama materi cetak.

Comments
Post a Comment