Menjelang
bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, munggahan menjadi salah satu tradisi yang
kerap dilakukan masyarakat Indonesia. Sosiolog IPB University Dr Ivanovich
Agusta mengungkapkan, bentuk adat istiadat itu bukan sekadar kebiasaan
turun-temurun. Menurut Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
(PSP3) IPB University ini, tradisi tersebut merupakan sebuah strategi sosial
untuk memperkuat solidaritas. Di samping itu, tujuannya juga memperbarui relasi
serta menjaga identitas budaya lokal. "Dari perspektif sosiologi,
munggahan sebagai ritus sosial yang menandai peralihan menuju fase religius
yang lebih intens. Tradisi ini berfungsi sebagai penanda waktu sosial (social
marker) yang membantu masyarakat menyusun ritme kolektif: kapan memperbaiki diri,
memulai disiplin ibadah, serta menguatkan komitmen moral bersama," ujar Dr
Ivanovich Agusta dalam keterangan tertulis pada Jumat (13/2/2026). Selain itu,
munggahan berperan sebagai meanisme rekonsiliasi sosial melalui tindakan saling
memaafkan. Ini dapat memperbaiki relasi yang renggang serta memulihkan harmoni
"ke-kita-an" (sense of belonging) dalam komunitas. "Interaksi
semacam ini empertebal modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan pertolongan,
dan norma timbal balik," jelas Ivanovich.
Dalam
ranah kekeluargaan, tradisi ini menyediakan ruang memperbarui ikatan lintas
generasi anak, orang tua, hingga kerabat jauh, yang dalam kehidupan modern
sering terfragmentasi oleh kesibukan. Munggahan juga memperluas solidaritas ke
tetangga dan komunitas sekitar. "Munggahan menunjukkan cara masyarakat
menyatukan identitas budaya lokal dengan nilai keagamaan. Tradisi ini
menegaskan bahwa agama tidak hanya dipraktikkan secara individual, tetapi
dilembagakan melalui simbol, kebiasaan, dan pertemuan komunitas," jelas
Ivanovich. Ia pun menekankan pentingnya menjaga otentisitas munggahan. Praktik
yang inklusif, melibatkan tetangga, kelompok rentan, dan warga yang
terpinggirkan dinilainya penting agar munggahan tidak menjadi tradisi
eksklusif. "Untuk generasi muda, munggahan harus dipahami sebagai sarana
meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia, bukan sekadar pengulangan
kegiatan. Adaptasi boleh dilakukan pada tempat atau format, tetapi prinsip
kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan harus tetap dijaga," kata dia.
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/

Comments
Post a Comment