Manfaat Puasa Ramadhan untuk Kesehatan Mental

 

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang mencari cara untuk menjaga kesehatan mental yang rentan mengalami gangguan. Salah satu cara itu adalah berpuasa, termasuk puasa Ramadan yang telah dipraktikkan selama berabad-abad. Di balik nilai spiritualnya, ternyata puasa Ramadan juga memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan mental seperti dijelaskan dalam artikel berikut ini. Sebelum membahas lebih jauh tentang manfaat puasa Ramadan, mari kita pahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kesehatan mental. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah keadaan mental sejahtera yang memungkinkan orang menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, bekerja dan belajar dengan baik, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Kesehatan mental mencakup aspek emosional, psikologis, dan sosial yang mempengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak. Kesehatan mental yang baik memungkinkan kita untuk berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari, menjalin hubungan yang sehat, dan menghadapi tantangan dengan lebih efektif. Kesehatan mental juga merupakan salah satu hak asasi manusia yang mendasar dan sangat penting bagi pengembangan pribadi, masyarakat, dan sosial-ekonomi.

 

Hubungan Puasa Ramadan dengan Kesehatan Mental

Puasa Ramadan adalah salah satu ibadah wajib dalam Islam yang dilakukan selama satu bulan penuh, di mana umat muslim berpantang dari makan, minum, dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan hawa nafsu sejak matahari terbit hingga tenggelam. Lebih dari sekadar kewajiban, puasa Ramadan memiliki mekanisme biologis dan psikologis yang dapat mempengaruhi kesehatan mental secara positif. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Disease Markers menunjukkan puasa intermiten dapat memicu pelepasan hormon-hormon yang berperan dalam regulasi suasana hati dan kesejahteraan mental. Puasa Ramadan sendiri memiliki pola yang serupa dengan puasa intermiten. Namun puasa yang bisa memberikan dampak positif bagi kesehatan mental bukan semata berpantang makan dan minum. Perlu ada pengaturan pola makan yang sehat pula plus aktivitas fisik yang berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan mental. Secara biologis, puasa memberikan manfaat bagi kesehatan mental melalui peningkatan produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yang sering disebut sebagai “pupuk otak”. BDNF adalah protein yang membantu pertumbuhan sel otak. Menurut sejumlah studi, kadar BDNF yang rendah dikaitkan dengan sejumlah masalah neurologis, termasuk penyakit Alzheimer dan depresi. Selain itu, puasa mempengaruhi produksi serotonin dan dopamin, dua hormon yang berperan penting dalam pengaturan mood atau suasana hati. Di samping itu, ada penurunan hormon stres kortisol secara signifikan selama puasa.

 

Bagaimana Puasa Ramadan Meningkatkan Kesehatan Mental?

Berdasarkan mekanisme biologis tersebut, puasa bisa memberikan dampak yang positif bagi kesehatan mental. Adapun secara spesifik, puasa Ramadan dapat meningkatkan kesehatan mental dengan cara berikut ini :

 

Peningkatan kesadaran diri (mindfulness) : Puasa Ramadan melatih kita untuk lebih sadar akan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Saat berpuasa, kita menjadi lebih peka terhadap rasa lapar, haus, dan emosi yang kita rasakan. Kesadaran ini membantu kita untuk lebih menghargai hidup dan meningkatkan rasa syukur yang pada akhirnya bisa memperbaiki kesejahteraan mental.

 

Pengurangan stres dan kecemasan : Saat berpuasa, kita cenderung berfokus pada ibadah dan aktivitas positif lain sehingga mengurangi paparan terhadap pemicu stres atau stresor eksternal. Selain itu, puasa dapat memicu pelepasan endorfin, yaitu hormon yang memiliki efek menenangkan dan meningkatkan suasana hati.

 

Peningkatan disiplin dan pengendalian diri : Puasa Ramadan melatih kedisiplinan dan pengendalian diri. Kita harus menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa selama kurang-lebih 14 jam setiap hari. Latihan ini membantu kita untuk mengembangkan kemampuan mengendalikan diri, yang bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Peningkatan empati dan kepedulian sosial : Saat berpuasa, kita merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus sehingga menjadi lebih peduli terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Hal ini mendorong kita untuk lebih bersedekah dan membantu sesama. American Psychological Association menyebutkan empati dapat memotivasi perilaku prososial dan meningkatkan kesejahteraan mental.

 

Perbaikan kualitas tidur : Saat berpuasa, kita cenderung makan lebih teratur dan menghindari makanan berat di malam hari yang dapat mengganggu tidur. Selain itu, ibadah malam seperti salat tarawih dapat membantu menenangkan pikiran dan mempersiapkan tubuh untuk tidur.

 

Selain menjalankan puasa Ramadan, umat muslim memperbanyak ibadah seperti salat dan membaca Al-Quran sehingga dapat meningkatkan koneksi spiritual dengan Sang Pencipta. Menurut Koenig dalam Handbook of Religion and Health, keterlibatan agama dan spiritualitas dapat mengurangi risiko depresi dan meningkatkan kesehatan mental.

 

Sumber : https://primayahospital.com/ 

Comments

Post a Comment