Setelah
satu bulan penuh kita berpuasa, segenap kaum Muslimin dan Muslimat di Indonesia
merayakan Hari Raya Idul Fitri. Kita bersyukur kepada Allah SWT, dengan
menggemakan dan mengumandangkan kalimat tauhid, tahmid, dan takbir sembari
membesarkan dan mengagungkan-Nya. Pertanda bahwa kita telah selesai
melaksanakan ibadah puasa Ramadhan serta berhasil melaksanakan perjuangan berat
menundukkan hawa nafsu dan godaan setan. Maka pantaslah kiranya kita menyambut
hari kemenangan dengan ucapan, "Taqabalallahu minna wa minkum taqabbal ya
karim". Bagi yang berhasil melewati ujian berat selama bulan suci Ramadhan
akan memperoleh derajat takwa. Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang
yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada
umat-umat sebelum kamu agar kamu sekalian menjadi orang yang bertakwa."
(QS al-Baqarah [2]: 183). Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang
melaksanakan ibadah puasa karena iman dan penuh pengharapan ridha Allah, maka
akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari-Muslim). Ketika
seseorang diampuni dosa-dosanya, baik dosa kepada Allah SWT maupun kepada
sesama (melalui saling memaafkan), ia kembali menjadi pribadi suci (fitrah)
sebagaimana baru dilahirkan. Oleh karena itu, hari kemenangan disebut Idul Fitri,
yang berarti kembali kepada fitrah. Fitrah bermakna sesuai asal kejadian atau
suci.
Salah
satu fitrah manusia bahwa selain sebagai ciptaan Allah SWT, manusia juga
sebagai makhluk sosial. Manusia dituntut melakukan hubungan yang seimbang
antara manusia dengan Allah SWT sebagai Pencipta dalam konteks hablun
min-Allah, serta hubungan sesama dalam konteks hablun min-annas. Allah SWT
berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika
mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan
manusia." (QS Ali-Imran [3]: 112). Allah SWT juga memerintahkan manusia
untuk menyembah Allah SWT dan berbuat baik kepada sesama dalam firman-Nya,
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong dan membanggabanggakan diri." (QS an-Nisa [4]:
36). Terkait ayat di atas, dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Rasulullah SAW
bertanya kepada sahabat Mu’adz bin Jabal, ”Apa hak Allah terhadap hambaNya?”
Mu’adz menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Kemudian Nabi SAW
menjawab, "Hendaklah kalian menyembah-Nya dan tidak boleh menyekutukan-Nya
dengan apapun juga." Lantas, Nabi SAW melanjutkan pertanyaan, “Apa hak
seorang hamba jika telah melakukannya?" Nabi SAW bersabda, "Ia tidak
akan disiksa."
Selanjutnya,
Allah SWT perintahkan manusia berbakti kepada kedua orang tua, yang telah
menjadi sebab adanya kita. Ada beberapa ayat suci Alquran yang menggandengkan
kewajiban berbakti dan berterima kasih kepada kedua orang tua dengan kewajiban
menyembah dan bersyukur kepada Allah SWT. Ini menandakan betapa pentingnya
berbakti kepada kedua orang tua. Kita juga diperintahkan untuk berbuat baik
kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga baik yang dekat maupun yang
jauh. Dari Ali bin Abi Thalhah (dari Ibnu Abbas) bahwa yang dimaksud tetangga
yang dekat dan yang jauh adalah ukuran kebiasaan jarak di lingkungan setempat.
Menurut Abu Ishak, tetangga yang dekat adalah tetangga yang seiman (seagama
atau Muslim). Sedangkan yang tidak seiman adalah termasuk tetangga yang jauh.
Meskipun demikian, ajaran Islam tetap memerintahkan kita untuk berbuat baik
kepada mereka. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik sahabat adalah yang
paling baik perlakuannya terhadap sahabatnya dan sebaik-baik tetangga adalah
yang paling baik perlakuannya terhadap tetangganya." Dengan demikian,
Islam memerintahkan kita untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah
basyariah, sebagaimana firman Allah SWT, "Bahwa sesungguhnya orang yang
beriman adalah bersaudara." (QS al-Hujurat: 10). Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak sempurna iman salah satu kalian sampai mencintai saudaranya
sebagaimana mencintai diri sendiri." Islam hadir untuk menjadi rahmat bagi
seluruh alam, sebagaimana Allah SWT nyatakan, ”Tidaklah Aku utus engkau
Muhammad kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS al-Anbiya: 107).
Dalam
konteks tersebut, penting bagi kita membangun dan memperkuat relasi (hubungan)
persaudaraan (ukhuwah) sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah), sesama anak
bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan hubungan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah).
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS al-Hujurat [49]: 13). Umat Islam
merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Keberadaan umat Islam menjadi penentu
kokoh tidaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Mari kita perkuat ukhuwah Islamiyah,
ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Insya Allah Indonesia akan menjadi
negeri yang kuat menyongsong "Indonesia Emas", menjadi negara yang
maju, sejahtera lahir dan batin, di bawah perlindungan dan ridha Allah SWT. Baldatun
thayyibatun wa Rabbun ghafur. Aamiin.
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/

Comments
Post a Comment