Salah
satu cita-cita setiap orang yang beriman ialah menggapai husnul khatimah. Namun
untuk menggapai sifat-sifat ini tidak gratis. Diperlukan perjuangan panjang dan
terus-menerus secara konsisten untuk menggapai husnul khatimah. Jiwa akan sehat
dan terpelihara kalau kita terbiasa berfikir positif, proaktif, dan
berorientasi kepada happy ending atau husnul khatimah. Akhir kehidupan yang
baik dan ideal. Khusus melakukan tugas dan pekerjaan sebaiknya diupayakan
berorientasi kepada husnul khatimah. Melakukan pekerjaan dengan berorientasi
husnul khatimah diawali dengan niat atau perencanaan yang luhur dan baik. Kita
harus berusaha menyingkirkan kesenangan dan kebahagiaan sesaat dengan
mengorbankan prinsip dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kita diharapkan
berasumsi segalanya diciptakan dua kali, yaitu ciptaan mental (blue print) yang
biasa diistilahkan dengan niat, dan ciptaan fisik atau eksekusi sebuah program
dengan perhatian lebih fokus dan profesional. Maka sudah barang tentu blue print-nya
sesuai konsep husnul khatimah.
Kita
harus bisa memastikan bahwa semua perbuatan kita berangkat dari konsep husnul
khatimah. Diawali dengan niat yang baik dan luhur semenjak pemunculan awal
gagasan itu (masyi’ah), lalu mengukur kemampuan (istitha’ah), dan terakhir
ketika gagasan itu direalisasi atau dieksekusi (kasab) dipastikan sudah melalui
perencanaan (niat) yang matang. Yang pertama kita diminta untuk membuat
perencanaan yang visible (blue print) yang sesuai dengan konsep husnul
khatimah. Blue print tentunya harus didesain dengan konsep proaktif, bukannya
reaktif. Harapan kita apa yang direncanakan sejak awal itulah yang menjadi
kenyataan. Dengan demikian, sesungguhnya setiap perbuatan itu dilaksanakan dua
kali. Sekali di dalam bentuk konsep dan kedua kalinya dalam bentuk actions. Sedemikian
penting hal ini, maka Allah pun mencontohkan Dirinya tidak melakukan
perbuatan-Nya sekali tetapi selalu dua kali, yaitu sekali dalam bentuk blue
print di Lauh al-mahfudh dan kedua kalinya dalam bentuk kenyataan di alam
syahadah ini. Kesemuanya ini memberikan hikmah betapa manusia juga sebaiknya
mengerjakan perbuatannya dua kali, sekali dalam perencanaan (programming) dan
kedua kalinya dalam bentuk implementasi.
Idealnya
antara niat dan aksi tidak terjadi perbedaan berarti. Apa yang ada di dalam
konsep dan perencanaan itulah yang menjadi kenyataan. Satu set antara niat
dan perbuatan sesungguhnya itulah jalan
lurus (shirath al-mustaqim). Perbuatan yang tidak sesuai dengan niat semula
boleh jadi disebut jalan yang dimurkai Tuhan (al-magdhub) atau jalan sesat
(al-dhalin). Keselarasan antara blue print (ciptaan pertama) dengan perbuatan
(ciptaan kedua) membutuhkan kepemimpinan dan manajemen. Manajemen dimaksudkan
di sini tidak lain adalah mengerjakan hal-hal yang baik dan benar secara
konsisten. Melakukan pebuatan baik dan benar secara konsisten sesungguhnya juga
memerlukan manajemen kalbu, yaitu pengelolaan kalbu secara baik dan benar.
Caranya tentunya bagi umat beragama ialah konsisten mengikuti tuntunan ajaran
agama secara telaten dan konsekuen. Untuk mencapai husnul khatimah di dalam
urusan duniawi, maka diperlukan penetapan sasaran-sasaran atau tujuan program
yang bisa dicapai. Kita tidak boleh melupakan sasaran-sasaran tersebut.
Sesederhana apapun suatu tujuan tetap kita tidak boleh melupakannya. Karena
itu, jangan pernah kita tidak menghargai hal-hal yang kecil dan sederhana dalam
hidup ini, karena kebanyakan yang menggagalkan hidup seseorang bukan hal besar
tetapi hal-hal kecil.
Oleh
: Prof KH Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal
Sumber : https://www.republika.id/



🤲
ReplyDelete