Ramadan dan Spirit Kebangsaan di Era Global AI

 

Indonesia merupakan salah satu bangsa yang memiliki kekayaan luar biasa. Tidak hanya kekayaan alam, tetapi juga kekayaan budaya, bahasa, suku, dan tradisi. Di tengah keragaman yang sangat besar itu, bangsa Indonesia tetap mampu hidup dalam persatuan. Hal ini merupakan nikmat besar yang patut disyukuri oleh seluruh rakyat Indonesia. "Salah satu hal yang wajib disyukuri bagi bangsa Indonesia adalah konsep nasionalisme yang begitu aktif bekerja di dalam warga bangsanya sendiri," kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Minggu (15/3/2026). Prof Nasaruddin Umar mencontohkan bagaimana kuatnya rasa persatuan tersebut. "Orang Papua yang sedemikian jauh dari Jawa itu tetap merasa Indonesia. Orang Sabang yang jauh tetap merasa dirinya Indonesia," jelasnya. Hal ini menggambarkan betapa kuatnya identitas kebangsaan Indonesia. Meskipun berbeda bahasa, adat istiadat, dan tradisi, masyarakat tetap merasa berada dalam satu rumah besar bernama Indonesia. "Indonesia ini adalah satu karunia yang luar biasa. Dalam era global seperti sekarang ini banyak sekali negara-negara yang rontok, banyak sekali negara-negara gagal," jelas Prof Nasaruddin Umar.

 

Menurut Prof Nasaruddin Umar, fenomena negara gagal biasanya terjadi karena lemahnya persatuan di antara masyarakatnya. Ketika kelompok-kelompok dalam masyarakat lebih mementingkan identitas sempit daripada kepentingan bersama, maka konflik mudah terjadi. "Kenapa mereka gagal? Karena gagal menciptakan suatu kohesi sosial, gagal membangun persatuan dan kesatuan," sambungnya. Prof Nasaruddin Umar menyebut bulan Ramadan menjadi salah satu momentum penting untuk memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat. Pada bulan ini, umat Islam merasakan kebersamaan yang sangat kuat. "Bulan puasa ini yang paling bagus. Sama-sama kita buka puasa di masjid, sama-sama kita beri makan kepada mereka yang berpuasa tanpa melihat itu orangnya siapa," tutup Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

 

Sumber : https://www.detik.com/hikmah 

Comments