Imam
al-Ghazali dalam karya Ihya Ulum ad-Din. menuturkan kisah keteladanan Nabi
Muhammad SAW sebagai seorang pemaaf. Rasulullah SAW membalas
keburukan-keburukan yang banyak orang lakukan padanya dengan kebaikan. Pada
suatu ketika, Nabi SAW bepergian dengan seorang sahabatnya, Anas bin Malik.
Keduanya berjalan biasa saja. Tiba-tiba, dari arah belakang seorang lelaki
berteriak-teriak, “Ya Muhammad! Ya Muhammad!” Sebelum Nabi SAW membalikkan
badannya, seketika pria tersebut menarik selendang Najrani (kain atau selendang
khas yang berasal dari wilayah Najran di Arab Saudi, selendang ini biasanya
dikaitkan dengan budaya tradisional masyarakat Arab bagian selatan) yang
dikenakan beliau. Tarikan itu sangat kuat. Bahkan, menurut kesaksian Ibnu
Malik, leher Rasulullah SAW langsung tercekik. Dengan wajah merah padam, sang
sahabat menengok. Tampak dari perangai dan cara bicaranya, lelaki yang sedang
menarik keras kain Nabi SAW itu adalah seorang Badui. “Aku melihat leher
Rasulullah SAW. Tepi selendang yang kasar membekas pada leher beliau karena
tarikan yang keras dari Si Badui,” tutur Anas dalam riwayatnya. Sambil melepas
genggamannya, lelaki yang tak dikenal itu berkata dengan nada memaksa, “Ya
Muhammad! Berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu!” Raut wajah Rasul
SAW sama sekali tidak menampakkan rasa terganggu, apatah lagi marah. Dengan
tersenyum, beliau menyanggupi permintaan si Badui. Kemudian, Ibnu Malik
diperintahkannya untuk memberikan bekal perjalanan beliau kepada lelaki asing
ini.
Mengomentari
kisah di atas, Imam al-Ghazali mengatakan, Nabi SAW dengan itu menunjukkan
keutamaan bersabar atas keburukan atau perilaku yang tidak menyenangkan. Dengan
kesabaran, seorang Mukmin sedang membuktikan daya tahan akhlaknya yang karimah.
Seakan-akan menyatakan, “Anda mungkin berbuat buruk kepada saya. Namun, dari
saya hanya ingin berbuat baik, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasul SAW.”
Puluhan tahun berdakwah, Nabi SAW sering mendapatkan perlakuan yang kasar dan
bahkan keji dari kaum musyrikin. Pernah seseorang melempari kepala Rasulullah
SAW dengan kotoran kala beliau sedang sujud dalam shalatnya. Tindakan itu tidak
dibalasnya dengan ledakan emosional, melainkan kesabaran dan munajat kepada
Allah SWT. Pernah beliau berdoa, semoga Rabb semesta alam berkenan menjadikan
dari keturunan Bani Quraisy orang-orang yang beriman lagi beramal saleh. Begitu
pula doanya sesudah menerima lemparan kerikil dan batu dari orang-orang Thaif.
“Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
Dalam
kisah lain, kesabaran Rasul SAW pada akhirnya menjadi jalan hidayah bagi
seseorang. Tersebutlah cerita tentang seorang wanita tua yang nyaris selalu
meludahi Nabi SAW kala berpapasan depan rumah. Saking seringnya, beliau sempat
bertanya-tanya. Sebab, pada suatu hari ketika melewati rumah nenek tersebut,
beliau tidak menerima tindakan kasar sebagaimana biasanya. Akhirnya, Rasulullah
SAW mengetahui bahwa perempuan tersebut sedang sakit. Kalau insan biasa dengan
kecenderungan dendam, boleh jadi bergembira saat mendengar kabar buruk yang
menimpa pihak pengganggu. Nabi SAW sama sekali tidak senang. Begitu mendapati
kabar itu, beliau menjenguk nenek itu. Dan, perempuan ini tidak menyangka,
sosok yang sering dihinanya akan bersedia membesuknya. Tindakan beliau
menggugah hatinya. Nenek ini menangis di dalam hatinya, "Duhai betapa
luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang
pertama yang menjengukku." “Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku,
padahal tiap hari aku meludahimu?" tanya wanita ini. “Aku yakin engkau
meludahiku karena belum mengetahui tentang kebenaran risalah Islam. Jika engkau
telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya,” jawab beliau.
Dengan penuh kesadaran, nenek tersebut berkata sebelum bersyahadat, "Wahai
Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.”
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/

😇
ReplyDelete