Doomscrolling
(Doompreading) adalah istilah untuk menggambarkan kebiasaan
seseorang yang terus-menerus menggulir (scrolling) layar media sosial atau
situs berita untuk membaca berita negatif, meskipun berita tersebut membuat
mereka merasa cemas, sedih, atau frustrasi. Kebiasaan scrolling media sosial
tanpa henti atau doomscrolling kembali menjadi sorotan setelah sejumlah
penelitian menunjukkan kaitannya dengan menurunnya kesejahteraan mental,
terutama pada anak muda. Melansir BBC (23/5/2026), laporan World Happiness Report
dari Wellbeing Research Centre di University of Oxford menemukan penggunaan
media sosial berlebihan berkaitan dengan penurunan wellbeing atau kesejahteraan
hidup. Sementara itu, melansir The Guardian (22/5/2026), tidak semua screen
time berdampak buruk. Menurut para ahli, cara seseorang menggunakan teknologi
justru menjadi faktor yang paling menentukan. Peneliti dari Wellbeing Research
Centre, Michael Plant, mengatakan media sosial sebenarnya bisa memberi manfaat
ketika digunakan secara wajar. “Kalau Anda menggunakan media sosial satu jam
sehari, itu bagus karena membuat Anda tetap terhubung,” kata Plant. Namun, ia
mengatakan laporan tersebut menemukan adanya korelasi antara lamanya waktu di
media sosial dengan penurunan kesejahteraan mental.
“Semakin
lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin besar penurunan wellbeing,”
ujarnya. Laporan itu juga menemukan bahwa kesejahteraan kelompok usia di bawah
25 tahun di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan
Australia menurun drastis dalam satu dekade terakhir, bersamaan dengan
pertumbuhan media sosial. Plant mengaku awalnya skeptis terhadap anggapan bahwa
media sosial berdampak negatif. “Saya dulu cukup skeptis terhadap hal negatif
di media sosial, tetapi buktinya semakin banyak,” katanya. Ia juga menilai
platform media sosial memang dirancang untuk membuat pengguna terus terlibat
lebih lama. Tidak semua screen time dianggap buruk. Penelitian terbaru
menemukan penggunaan media sosial berlebihan dapat memengaruhi kesejahteraan
mental, terutama pada anak muda yang terbiasa doomscrolling setiap hari.
Meski
begitu, para ahli menilai screen time tidak selalu identik dengan dampak
negatif. Aktivitas seperti belajar bahasa lewat aplikasi, bermain game bersama
teman, hingga video call dengan keluarga berbeda dengan scrolling video pendek
tanpa tujuan. Editor video game The Guardian, Keza MacDonald, mengatakan banyak
orang memakai ponsel hanya untuk “mengisi waktu” tanpa tujuan yang jelas. “Anda
tidak mencari pengalaman tertentu, Anda hanya menghabiskan waktu,” ujarnya.
Profesor psikologi dari University of Reading, Netta Weinstein, membedakan
penggunaan teknologi yang harmonis dan kompulsif. Menurut dia, penggunaan media
sosial bisa mendukung wellbeing jika dilakukan secara sadar dan tetap terasa
terkendali. Sebaliknya, dampaknya bisa menjadi negatif ketika seseorang merasa
sulit berhenti atau memakai media sosial untuk menghindari masalah dalam
kehidupan nyata.
Para
ahli menyarankan pengguna lebih sadar terhadap cara mereka memakai media sosial
sehari-hari. Michael Plant mengatakan media sosial tidak akan hilang, sehingga
pengguna perlu lebih realistis terhadap kebiasaan digital mereka sendiri.
“Kalau Anda terus melihat kehidupan orang lain terasa lebih baik daripada hidup
Anda, tentu Anda akan merasa lebih buruk,” kata Plant. Ia menyarankan
orang-orang lebih banyak berinteraksi langsung di dunia nyata dibanding terus
membandingkan diri di media sosial. “Tujuannya adalah mengembalikan unsur
sosial dalam media sosial,” ujarnya. Sementara itu, aktivitas digital seperti
bermain puzzle kata, belajar keterampilan baru, membuat karya kreatif, hingga
bermain game secara sadar bisa menjadi alternatif screen time yang lebih sehat.
Menurut para ahli, teknologi pada dasarnya tidak selalu buruk. Dampaknya sangat
bergantung pada tujuan, kesadaran, dan cara seseorang menggunakannya setiap
hari.
Penulis
: Ria Apriani Kusumastuti
Sumber: https://lifestyle.kompas.com

Comments
Post a Comment