Sejatinya,
dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT dituntut kepatuhan dan kesungguhan.
Namun, manusia seringkali mengelak atau berdalih agar terhindar dari beban
syariat dan tidak menanggung dosa meninggalkannya. Seakan, jika manusia
mematuhi yang akan mendapat keuntungan adalah Allah SWT. Padahal, manusialah
yang butuh akan amal kebaikan dan menjauhi keburukan, sementara Dia adalah Dzat
yang tidak butuh apapun dari makhluk di alam semesta (QS. Ali Imran[3]: 97).
Walaupun semua manusia dan jin taat beribadah kepada Allah SWT., tidak akan
meninggikan-Nya, dan jika larut dalam kemaksiatan pun tidak akan menurunkan
keagungan-Nya. Segala akibat perbuatan manusia yang baik atau buruk akan
kembali kepada dirinya sendiri (QS. Al-Isra`[17]: 7). Dalam hal kepatuhan
menjalankan perintah Ilahi, baik dalam ibadah ritual, sosial, intelektual
maupun spritual, manusia terbagi menjadi empat macam.
Pertama,
tak mampu dan tak mau. Inilah kelompok manusia yang paling rendah, susah dan
menyusahkan, sebab tidak tahu diri. Mereka tidak tahu hakikat dirinya, dari
mana, sedang dimana, hendak ke mana dan untuk apa diciptakan. Mereka tidak
punya kemampuan fisik, materi, ilmu dan tak mau pula melakukan kewajiban atau
kebaikan yang semestinya. Semisal, seorang tak mampu (miskin), tapi tidak mau
belajar atau sekolah walaupun ada yang mau membantunya. Walau pun ada yang
menolong, mereka malas, lalai akan tugas dan mudah putus asa. Jika diberi
peluang atau tantangan, mereka overthinking, keluh kesah dan mencari alasan.
Mereka berdalih, ”Buat apa sekolah, nanti juga susah dapat kerja kalau tidak
ada orang dalam” (QS. Al-Ma’arif[70]: 19-20). Mereka sudah miskin sombong pula.
Allah SWT tidak suka kepada orang kaya yang sombong, apalagi orang miskin. Nabi
SAW pernah bersabda, bahwa kelak pada Hari Kiamat Allah SWT tak menyapa, tak
mau menengok dan menyucikan mereka, lalu ditimpa azab yang pedih, yakni orang
tua yang berzina, pemimpin yang pendusta dan orang miskin yang sombong (HR.
Muslim).
Kedua,
tak mampu tapi mau. Inilah kelompok orang-orang hebat yang tidak mau menyerah
dan putus asa dalam keterbatasan, kesulitan dan tekanan, sebab tahu diri.
Mereka sadar bahwa perubahan hanya akan terjadi jika muncul dari diri sendiri
(QS. Ar-Ra’du[13]: 11). Juga, mereka tidak mudah putus harapan walau kegagalan
sering mendera dan bangkit kembali demi meraih karunia Allah (QS. Yusuf
[12]:87). Mereka orang yang selalu mencari jalan keluar ketika buntu, tak henti
berinovasi dan berkreasi di tengah tantangan dan persaingan. Walau secara
fisik, materi dan ilmu pengetahuan kekurangan, namun kemauan yang tinggi mampu
melampauinya. Semisal, mereka sebenarnya tak mampu menunaikan haji atau kurban,
namun mereka menabung hingga belasan bahkan puluhan tahun. Allah SWT akan
mengutus orang-orang baik untuk mewujudkan cita-cita mereka yang tinggi. Syair
lagu almarhum Meggy Z tahun 80-an, telah menyemangati penulis disaat berjuang
menuntut ilmu dalam kesulitan, ”Suatu saat nanti nasib berubah, gubuk bambu
jadi istana”.
Ketiga,
mampu tapi tak mau. Inilah kelompok orang-orang yang kufur dan munafik, baik
secara tegas ingkar karena keangkuhan maupun kamuflase ketidakmampuan.
Sebenarnya mereka mampu, baik secara fisik, materi maupun ilmu untuk melakukan
kewajiban atau kebaikan, namun tidak mau dengan berbagai alasan. Bahkan,
seringkali dengan bangga mengaku tidak mampu, sebab menganggap hal tersebut
tidak penting atau percuma. Mereka juga mampu berzakat, sedekah dan kurban tapi
tidak mau, karena menduga akan mengurangi kekayaannya (bakhil). Mereka juga
mampu menolong saudara atau yatim dan dhuafa tapi tidak mau dengan alasan tidak
mendidik. Setan yang menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat baik, sebab akan
jatuh fakir (QS. Al-Baqarah[2]:268). Sempat dan kuat shalat, atau shalat
berjamaah ke masjid namun tidak mau dengan alasan tidak nyaman. Dalam surah
Ar-Arahman manusia diingatkan 31 kali akan sifat buruk yang selalu mendustakan
nikmat Allah.
Keempat,
mampu dan mau. Inilah kelompok orang yang pandai bersyukur, sehingga meraih
keberuntungan hidup di dunia dan akhirat. Mereka dibekali iman, ilmu, amal dan
adab yang baik oleh orang tuanya serta mengerti hakikat dunia sebagai tempat
menanam amal kebajikan untuk bekal kembali ke kampung akhirat yang abadi (QS.
Al-Qoshosh[28] :77). Mereka mengerti visi dan misi hidup seorang muslim, yakni
akhirat tujuan hidup, namun hidup di dunia harus berjaya, senantiasa berlaku
baik dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka meneladani kepribadian
Baginda Rasulullah SAW, para Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabiut Tabi’iin (salaf
as-saleh). Mereka yang kaya tetap dermawan, pandai tetap rendah hati,
berkedudukan tinggi namun adil dan taat ibadah kepada Allah SWT. Ketika Nabi
SAW shalat tahajjud hingga bengkak kakinya, lalu istrinya, Sayyidah Aisyah ra,
heran karena dosanya sudah diampuni. Nabi SAW menjawab, "afala akuuna
’abdan syakuraa" (tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang pandai
bersyukur”? (HR. Bukhari). Memang, kebanyakan manusia kufur dan sedikit yang
bersyukur (QS. Al-A’raf[7]:10). Guru kehidupan kita, Prof. KH. Didin
Hafidhuddin dalam buku Membangun Kemandirian Umat (hal. 63), menegaskan delapan
sifat kedermawanan Nabi SAW yang mesti diteladani umatnya, yakni mudah memberi,
menyayangi anak yatim, membantu kaum dhuafa, membantu orang yang mencari ilmu,
menolong orang yang terjatuh, memberi makan orang lapar, sedekah di bulan
Ramadhan, dan memberi solusi dari kesulitan.
Akhirnya,
setiap muslim mesti berusaha menjadi orang yang mampu dan mau melakukan
kebaikan, sehingga meraih keberkahan, senang dan tenang (bahagia). Setidaknya,
jika tak mampu tapi harus mau berjuang meraih kejayaan dan tidak mudah putus
asa. Jangan sampai menjadi kelompok orang yang mampu tapi tak mau, karena
keangkuhan diri. Apalagi menjadi orang yang tak mampu dan tak mau, sudah miskin
sombong pula, sebab tidak tahu diri. Allahu a’lam bish-shawab.
Oleh
: Hasan Basri Tanjung
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/

😇
ReplyDelete