Tidak
terasa kaum Muslimin akan kembali melewati pergantian tahun baru Hijriyah, dari
tahun 1447 H berganti menjadi 1448 H. Momentum ini hendaknya dijadikan sebagai
sarana untuk penguatan komitmen membangun kehidupan berbasiskan nilai-nilai
hijrah Nabi SAW. Peristiwa hijrah merupakan suatu indikasi kebenaran ajaran
Nabi SAW dan latihan bagi para pengikutnya. Dengan proses hijrah ini mereka
menjadi mampu memikul tanggung jawab kepemimpinan di muka bumi. Allah
memilihkan Madinah sebagai tempat hijrah bagi kaum Muslimin sebagaimana
disebutkan dalam sabda Nabi SAW, “Tempat hijrah kalian sudah diperlihatkan
kepadaku. Aku telah melihat tanah bergaram dan ditumbuhi pohon kurma berada di
antara dua gunung yang berada di Harrah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Penyebab
hijrah
Hijrah
Nabi SAW dan kaum Muslimin bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menjadi
alasan untuk melakukan hijrah. Pertama, karena adanya siksaan dan tekanan.
Begitu Nabi SAW melakukan dakwah secara terbuka, berbagai ancaman diarahkan
kepadanya dan kaum muslimin. Karena itu, Nabi SAW selalu berpikir untuk mencari
perlindungan di luar Makkah. Sehingga terjadilah hijrah kaum Muslimin ke
Habsyah, Thaif, dan kemudian ke Madinah. Penyebab hijrah di antaranya karena
penyiksaan dan penindasan kaum kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin. Kedua,
adanya kekuatan yang akan membantu dan melindungi dakwah, sehingga memungkinkan
Nabi SAW berdakwah dengan leluasa. Hal ini sebagaimana tertuang dalam nash
Bai’atul Aqabah kedua. Yaitu kaum Anshar berjanji akan melindungi Nabi SAW
seperti melindungi anak dan istri mereka. Ketiga, pembesar kaum Quraisy dan
sebagian besar masyarakat Makkah menganggap Nabi sebagai pendusta, sehingga
mereka tidak mempercayainya. Dengan kondisi seperti ini, maka beliau ingin
mendakwahkan Islam kepada masyarakat lainnya yang mau menerimanya. Keempat,
kaum Muslimin khawatir agama mereka terfitnah. Ketika Aisyah RA ditanya tentang
hijrah, beliau berkata: kaum Mukminun pada masa dahulu, mereka pergi membawa
agama mereka menuju Allah dan Rasul-Nya karena khawatir terfitnah.” (HR
Bukhari)
Kolaborasi
Setelah
berbagai ujian dan cobaan di Makkah, Allah memerintahkan Nabi dan umat Islam
berhijrah ke Madinah. Kemudian Nabi SAW memerintahkan umat Islam berhijrah
secara sembunyi-sembunyi dan bertahap agar tidak mendapatkan gangguan dari kaum
kafir Makkah. Banyak orang yang membantu dalam perjalanan hijrah Nabi SAW.
Pertama, Ali bin Abi Thalib. Ali mendapatkan tugas untuk mengecoh orang-orang
kafir Quraisy yang hendak menghalangi hijrahnya Nabi dan berencana membunuhnya.
Ali tidur di tempat tidur Nabi dan berselimut dengan mantel Nabi berwarna hijau
berasal dari Hadhramaut. Kedua, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia bertugas menemani
Nabi, yang sebelumnya telah menyiapkan dua ekor unta untuk hijrah dan menemani
Nabi sembunyi di gua Tsur selama tiga hari. Ketiga, Abdullah bin Abu Bakar. Ia
bertugas sebagai pencari informasi, jika malam hari membersamai Nabi dan Abu
Bakar serta menyampaikan informasi terkait situasi di luar Tsur. Ia
meninggalkan keduanya pada akhir malam dan pagi harinya menyelusup ke tengah
orang-orang Quraisy untuk menyadap informasi. Keempat, Amir bin Fuhairah. Ia
bertugas menggembalakan domba. Pada petang hari ia menggembala di dekat gua
agar Nabi dan Abu Bakar dapat meminum susu domba dan menggiring domba untuk
menghapus jejak langkah kaki Abdullah bin Abu Bakar. Kelima, Abdullah bin
Araiqath. Ia orang kafir yang mengetahui seluk beluk jalan dan dibayar oleh Abu
Bakar yang diberi tugas untuk memandu perjalanan menuju ke Madinah. Keenam,
Suraqah bin Malik. Ia mengejar Nabi untuk mendapat hadiah, namun akhirnya
menyerah karena mengetahui kerasulan Nabi dan diminta merahasiakan pertemuan
tersebut. Bergitulah Suraqah, yang pada pagi harinya bersemangat mencari Nabi
namun pada sore harinya ia menjaga Nabi SAW. Ketujuh, Asma binti Abu Bakar. Ia
bertugas merahasiakan hijrahnya Nabi SAW dan Abu Bakar serta membawakan makanan
ke gua Tsur setiap hari padahal dalam kondisi sedang hamil.
Perjalanan
Setelah
Abu Bakar RA melihat kaum Muslimin sudah banyak yang berangkat hijrah ke
Madinah, ia datang kepada Nabi SAW meminta izin untuk berhijrah. Tetapi dijawab
oleh Nabi, “Jangan tergesa-gesa, aku ingin memperoleh izin lebih dulu (dari
Allah).” Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau juga menginginkannya?” Jawab Nabi,
Ya.” Kemudian Abu Bakar menangguhkan keberangkatannya untuk menemani Nabi SAW.
Ia lalu membeli dua ekor unta dan dipeliharanya selamanya empat bulan. Setelah
kaum Quraisy mengetahui Nabi SAW telah memiliki pendukung dari luar Makkah dan
khawatir akan menghimpun kekuatan dari luar Makkah. Maka, kaum Quraisy
mengadakan pertemuan di Darun Nadwah (rumah Qushayyi bin Kilab) untuk membahas
apa yang harus dilakukan terhadap Muhammad SAW. Akhirnya diperoleh kata sepakat
untuk mengambil seorang pemuda yang perkasa dari setiap kabilah Quraisy. Kepada
setiap pemuda itu diberikan sebilah pedang untuk bersama-sama membunuh Muhammad
SAW, agar Bani Abdi Manaf tidak berani melancarkan serangan terhadap orang
Quraisy. Setelah ditentukan pelaksanannya, Jibril AS datang kepada Nabi
memerintahkan berhijrah dan melarang tidur di tempat tidurnya pada malam itu.
Kemudian Nabi SAW menemui Ali bin Abi Thalib dan memerintahkannya untuk menunda
keberangkatan hingga selesai mengembalikan barang-barang titipan orang lain
yang ada pada Nabi SAW. Pada masa itu setiap orang Makkah yang merasa khawatir
terhadap barang miliknya mereka menitipkan kepada Nabi karena mengetahui
kejujuran dan kesetiaan beliau dalam menjaga barang-barang amanat.
Sementara
Abu Bakar memerintahkan anak laki-lakinya, Abdullah, supaya menyadap berita
yang dibicarakan orang banyak di luar, untuk disampaikan pada sore harinya
kepadanya. Kepada bekas budaknya, Amin bin fahirah, Abu Bakar memerintahkan
menggembalakan dombanya di siang hari dan sore harinya digiring ke gua untuk
diambil susunya dan menghapus jejak. Kepada Asma, Abu Bakar menugasinya untuk
membawakan makanan pada setiap sore. Pada malam hijrah, orang-orang musyrik
telah menunggu di pintu Nabi SAW. Mereka mengintai hendak membunuhnya, tetapi
Nabi lewat di hadapan mereka dengan selamat, karena Allah telah mendatangkan
rasa kantuk yang sangat. Sementara Ali bin Abi Thalib dengan tenang tidur di
tempat tidur Nabi SAW. Nabi SAW bersama Abu Bakar berangkat meninggalkan rumah
pada malam hari tanggal 27 Shafar tahun 14 dari kenabian, menuju gua Tsur.
Kemudian Abu Bakar memasuki gua terlebih dahulu untuk melihat keadaan
barangkali di dalamnya ada binatang buas atau ular. Di gua inilah keduanya
menginap selama tiga hari. Setelah mengetahui keberangkan Nabi SAW, orang-orang
musyrik mencarinya dengan mengawasi semua jalan ke arah Madinah dan memeriksa
setiap persembunyian, bahkan sampai di depan gua Tsur. Mendengar langkah kaki
orang-orang musyrik Abu Bakar merasa khawatir, hingga Nabi SAW menenangkannya,
“Wahai Abu Bakar, jangan kamu kira kita hanya berdua saja. Sesungguhnya Allah
beserta kita.”
Setelah
tidak ada lagi yang mencari, dan setelah datang Abdullah bin Uraiqith sebagai
pemandu jalan, berangkatlah Nabi bersama Abu Bakar menyusuri jalan rahasia
menuju Madinah. Perjalanan Nabi dan Abu Bakar menuju Madinah diketahui Suraqah
bin Ja’tsam. Ia segera mengejarnya dengan harapan mendapatkan hadiah besar dari
kaum Quraisy sebagai sayembara jika dapat menangkap Muhammad dan Abu Bakar.
Ketika telah sampai di dekat Nabi tiba-tiba kuda Suraqah tersungkur dan dia pun
terpelanting. Kemudian dia bangun dan mengejar kembali sampai mendengar bacaan
Nabi SAW. Berkali-kali Abu Bakar menoleh ke belakang, sementara Nabi berjalan
terus dengan tenang. Setiap kali sampai di dekat Nabi SAW Suraqah terpelanting
dari kudanya, hingga dia berteriak memanggil minta diselamatkan. Tatkala Nabi
dan Abu Bakar menghampirinya Suraqah meminta maaf dan mohon supaya Nabi berdoa
memohonkan ampunan untuknya dan menawarkan bekal perjalanan. Nabi meminta
kepada Suraqah untuk tidak menyebarkan informasi tentang Nabi SAW. Maka
pulanglah Suraqah. Dan setiap kali bertemu dengan orang-orang yang mencari
Nabi, dia selalu menyarankan supaya kembali saja. Pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal
tahun ke-14 dari kenabian, Nabi SAW sampai di Quba. Beliau berada di Quba
selama empat hari. Di Quba beliau membangun masjid Quba dan shalat di dalamnya.
Inilah masjid pertama yang didirikan atas dasar takwa setelah nubuwah. Setelah
itu Nabi SAW melanjutkan perjalanan ke Madinah. Nabi SAW memasuki Madinah tepat
pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Di sinilah beliau disambut dengan meriah dan
dijemput oleh orang-orang Anshar.
Pelajaran
Hijrah.
Peristiwa
hijrah Nabi SAW dan kaum Muslimin ke Madinah ini mempunyai banyak pelajaran
bagi umat Islam. Pertama, pesan Nabi terhadap Abu Bakar supaya menunda dan
menemani perjalanan hijrah Nabi SAW. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah
orang yang paling dicintai oleh Nabi SAW, paling dekat dengannya, dan paling
berhak menjadi khalifah sesudahnya. Kedua, perintah hijrah ditinjau dari sisi
waktu dan tempat merupakan wahyu dari Allah SWT. Bukhari menyebutkan, “Abu Musa
berkata meriwayatkan dari Nabi SAW, dia bersabda, ‘Saya melihat dalam mimpi
bahwa saya berhijrah dari Makkah ke negeri yang dipenuhi pohon kurma, saya
menduga ke Yamamah atau Hijr, ternyata ke Madinah.” (Fath Al-Bari). Ketiga,
hijrah ke Madinah bukan rekreasi yang diinginkan orang Muhajirin dan bukan pula
karena Makkah merupakan negeri berpenyakit, sehingga mereka gembira dengan
berita wajibnya hijrah dari Makkah. Namun, itu adalah satu perintah yang
dibebankan yang berkaitan dengan akidah yang diyakini kebenarannya, dan
berkaitan dengan karakter risalah Islam yang harus disampaikan kepada orang
lain. Keempat, peristiwa hijrah menunjukkan keistimewaan Ali bin Abi Thalib
karena ia yang tidur di tempat tidur Nabi menggantikan posisi yang berbahaya,
mempertaruhkan nyawa dengan satu keyakinan bahwa Allah akan menjaga dan
melindunginya, ia melaksanakan segala tugas dan tanggungjawab yang dibebankan
Nabi SAW kepadanya. Kelima, dalam perjalanan hijrah Nabi ke Madinah melibatkan
banyak orang. Hal ini menegaskan pentingnya kerja sama dan sama-sama kerja yang
rapi dan pembagian tugas dalam menjalankan misi perjuangan dan dakwah. Masih
banyak pelajaran lainnya yang dapat diambil dan diimplementasikan dalam upaya
membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahu a’lam.
Oleh
: Imam Nur Suharno
Sumber : https://analisis.republika.co.id/

😇
ReplyDelete