Fenomena
penghinaan terhadap ajaran agama, simbol-simbol keagamaan, maupun tokoh agama
bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia. Dalam perspektif Islam, perilaku
semacam ini tidak hanya mencerminkan rendahnya adab dan akhlak, tetapi juga
menunjukkan kebodohan spiritual yang dapat menjerumuskan seseorang pada sikap
meremehkan perkara-perkara suci yang dimuliakan Allah SWT. Rasulullah SAW
bahkan menyebut mencela agama sebagai salah satu ciri orang yang bodoh. Hal
tersebut termaktub dalam wasiat beliau kepada sahabat Ali bin Abi Thalib RA.
يَا
عَلِيُّ، وَلِلْأَحْمَاقِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ اَلتَّهَاوُنُ فِيْ فَرَائِضِ اللهِ وَكَثْرَةُ
الْكَلَامِ فِيْ غَيْرِ ذِكْرِ اللهِ وَالطَّعْنُ فِي الدِّيْنِ
"Wahai
Ali, bagi orang bodoh itu ada tiga tanda, yaitu meremehkan perkara-perkara yang
diwajibkan Allah, banyak berbicara selain mengingat Allah, dan mencela
agama."
Keterangan
tersebut tercantum dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya Syekh Abdul Wahhab
Asy-Sya'rani. Dalam pandangan Islam, mencela agama bukan sekadar tindakan yang
melukai perasaan pemeluknya, melainkan sikap yang menunjukkan hilangnya
penghormatan terhadap syariat dan nilai-nilai yang berasal dari Allah SWT.
Orang yang mencela ajaran agama dan simbol-simbol agama sejatinya menempuh
jalan yang pernah dilakukan kaum musyrik Quraisy ketika Rasulullah SAW
menyampaikan risalah Islam. Mereka tidak hanya menolak dakwah Nabi Muhammad
SAW, tetapi juga menjadikan wahyu Allah sebagai bahan ejekan dan olok-olok.
Allah SWT mengabadikan perilaku tersebut dalam Alquran:
وَلَئِن
سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ
وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
"Jika
kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah
mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan
bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan
Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?'" (QS At-Taubah [9]: 65).
Dalam
Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang
yang meremehkan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam sebuah perjalanan. Ketika
perbuatan mereka diketahui, mereka berdalih bahwa ucapan tersebut hanyalah
candaan dan gurauan. Namun Allah SWT menolak alasan itu dan menegaskan bahwa
memperolok Allah, ayat-ayat-Nya, maupun Rasul-Nya bukanlah perkara ringan yang
dapat dibenarkan dengan dalih bercanda. Para ulama tafsir menerangkan bahwa
ayat ini menjadi peringatan keras agar kaum Muslimin menjaga lisan dan sikap
mereka terhadap agama. Sebab, sesuatu yang dianggap candaan oleh manusia bisa
menjadi perkara besar di sisi Allah SWT apabila menyangkut penghinaan terhadap
agama, syariat, simbol-simbol keislaman, maupun para nabi dan rasul.
Bermula
dari Candaan
Salah
satu alasan yang paling sering dikemukakan ketika seseorang menyinggung atau
mengolok-olok agama adalah bahwa ucapan tersebut hanya dimaksudkan sebagai
candaan. Dalih "sekadar bercanda" kerap digunakan untuk meredakan
kritik atau menghindari tanggung jawab atas perkataan yang telah menyakiti
orang lain maupun merendahkan nilai-nilai agama. Padahal, Islam mengajarkan
bahwa tidak semua hal dapat dijadikan bahan lelucon. Perkara yang berkaitan
dengan Allah SWT, para nabi, ayat-ayat Alquran, syariat, maupun simbol-simbol
agama memiliki kedudukan yang mulia sehingga harus dijaga kehormatannya.
Alquran bahkan mengabadikan alasan serupa yang pernah disampaikan oleh sebagian
orang pada masa Rasulullah SAW. Ketika perbuatan mereka yang mengolok-olok
agama diketahui, mereka berdalih bahwa apa yang dilakukan hanyalah senda gurau
dan permainan. Namun Allah SWT menolak alasan tersebut melalui firman-Nya dalam
Surat At-Taubah ayat 65. Para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan
candaan tidak dapat dijadikan pembenaran apabila menyangkut penghinaan terhadap
agama. Sebab, ukuran suatu ucapan dalam Islam tidak hanya dilihat dari niat
pelakunya, tetapi juga dari isi dan dampak yang ditimbulkannya. Dalam kehidupan
modern, fenomena ini semakin mudah ditemukan melalui media sosial. Konten yang
mengejar perhatian, popularitas, atau hiburan terkadang mendorong sebagian
orang melewati batas dengan menjadikan ajaran agama sebagai bahan ejekan.
Padahal sesuatu yang dianggap lucu oleh manusia belum tentu ringan di sisi Allah
SWT. Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjaga lisannya dan
mempertimbangkan setiap perkataan sebelum diucapkan. Rasulullah SAW bersabda
bahwa seseorang dapat mengucapkan satu kalimat yang dianggap sepele, padahal
kalimat tersebut dapat menyeretnya ke dalam kebinasaan. Pesan ini menjadi
pengingat bahwa candaan sekalipun harus tetap berada dalam koridor adab dan
penghormatan terhadap perkara-perkara yang disucikan agama.
Bahaya
Lisan: Dosa yang Sering Diremehkan
Banyak
orang menganggap dosa hanya berkaitan dengan tindakan fisik, padahal Islam
memberikan perhatian besar terhadap ucapan yang keluar dari lisan. Tidak
sedikit pelanggaran yang bermula dari kata-kata yang dianggap ringan, seperti
ejekan, hinaan, fitnah, ghibah, maupun olok-olok terhadap agama dan sesama
manusia. Alquran mengingatkan bahwa setiap perkataan manusia berada dalam
pengawasan Allah SWT. Tidak ada satu ucapan pun yang luput dari pencatatan
malaikat. Karena itu, seorang Muslim dituntut untuk berhati-hati dalam
berbicara dan mempertimbangkan dampak dari setiap kalimat yang diucapkannya.
Rasulullah SAW juga memperingatkan bahwa seseorang bisa tergelincir ke dalam
dosa besar hanya karena ucapan yang dianggap sepele. Dalam sebuah hadis, beliau
menjelaskan bahwa ada orang yang mengucapkan suatu kalimat tanpa memikirkan
akibatnya, padahal ucapan tersebut dapat menyeretnya ke dalam kebinasaan.
Bahaya lisan semakin besar ketika digunakan untuk merendahkan kehormatan orang
lain atau memperolok perkara yang dimuliakan agama. Ejekan yang dianggap
candaan dapat berubah menjadi dosa apabila mengandung penghinaan, kebohongan,
atau merusak persaudaraan di antara sesama manusia. Para ulama menegaskan bahwa
menjaga lisan merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Sebab, lisan adalah
cerminan hati. Ketika hati dipenuhi ketakwaan, ucapan yang keluar cenderung
membawa kebaikan. Sebaliknya, hati yang lalai sering kali melahirkan perkataan
yang menyakiti, memecah belah, dan menjerumuskan pemiliknya ke dalam dosa. Di era
media sosial, peringatan ini menjadi semakin relevan. Komentar, unggahan, atau
candaan yang ditulis dalam hitungan detik dapat tersebar luas dan meninggalkan
dampak yang panjang. Karena itu, Islam mengajarkan agar setiap Muslim
menjadikan lisannya sebagai sarana kebaikan, bukan sumber penyesalan di dunia
maupun akhirat.
Adab
Muslim Saat Berbeda Pendapat dalam Agama
Perbedaan
pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi keilmuan Islam.
Sejak masa para sahabat hingga ulama generasi berikutnya, perbedaan pandangan
dalam memahami suatu persoalan agama telah terjadi dan melahirkan khazanah
pemikiran yang kaya. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh
menjadi alasan untuk saling menghina atau merendahkan. Para ulama membedakan
secara tegas antara kritik ilmiah, diskusi keagamaan, dan penghinaan terhadap
agama. Kritik ilmiah dilakukan dengan landasan ilmu, argumentasi yang jelas,
serta bertujuan mencari kebenaran. Diskusi juga dilakukan dengan adab,
menghormati lawan bicara, dan tidak menyerang kehormatan pribadi. Sebaliknya,
penghinaan muncul ketika seseorang tidak lagi berusaha mencari kebenaran,
melainkan meremehkan, mengejek, atau menjadikan ajaran agama serta
simbol-simbol keagamaan sebagai bahan olok-olok. Dalam kondisi seperti itu,
tujuan dialog berubah dari pencarian ilmu menjadi tindakan yang merusak
kehormatan agama dan menimbulkan permusuhan. Alquran sendiri mengajarkan agar
perdebatan dilakukan dengan cara yang terbaik. Allah SWT memerintahkan kaum
Muslim untuk berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialog secara
santun. Prinsip ini menunjukkan bahwa kerasnya perbedaan pandangan tidak boleh
menghilangkan akhlak dan penghormatan terhadap sesama. Sejarah Islam juga
mencatat banyak contoh ulama besar yang berbeda pendapat dalam berbagai masalah
fikih, tetapi tetap menjaga hubungan baik dan saling menghormati. Mereka
memahami bahwa perbedaan hasil ijtihad tidak identik dengan permusuhan. Karena
itu, adab sering kali dianggap lebih penting daripada kemenangan dalam
perdebatan. Di tengah maraknya perdebatan keagamaan di media sosial, prinsip
ini menjadi semakin relevan. Seorang Muslim dituntut untuk menyampaikan
pandangan dengan ilmu dan kesantunan, serta menghindari ucapan yang mengandung
ejekan, penghinaan, atau pelecehan terhadap agama. Dengan demikian, perbedaan
pendapat dapat menjadi sarana memperkaya pemahaman, bukan pemicu perpecahan dan
kebencian.
Ketika
Media Sosial Memudahkan Orang Menghina Agama
Perkembangan
media sosial telah membuka ruang yang sangat luas bagi setiap orang untuk
menyampaikan pendapat. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga membuat
sebagian pengguna semakin mudah melontarkan ucapan yang merendahkan, mengejek,
atau menghina agama tanpa mempertimbangkan dampaknya. Jika pada masa lalu
sebuah ucapan hanya didengar oleh lingkaran terbatas, kini satu komentar,
unggahan, atau video dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan menit.
Akibatnya, candaan yang menyinggung agama atau simbol-simbol keagamaan tidak
lagi menjadi persoalan pribadi, melainkan dapat memicu kegaduhan sosial yang
lebih luas. Fenomena ini diperparah oleh budaya mencari perhatian dan
popularitas di dunia digital. Demi mendapatkan banyak penonton, tanda suka,
atau pengikut, sebagian orang sengaja membuat konten kontroversial yang
menyentuh isu agama. Tidak jarang mereka kemudian berdalih bahwa pernyataan
tersebut hanyalah humor, satire, atau bagian dari kebebasan berekspresi.
Padahal, dalam ajaran Islam, setiap ucapan tetap memiliki konsekuensi moral,
baik disampaikan secara langsung maupun melalui media digital. Apa yang ditulis
di layar ponsel pada hakikatnya sama dengan apa yang diucapkan oleh lisan.
Karena itu, seorang Muslim tetap dituntut menjaga adab, kehormatan orang lain,
dan kesucian agama dalam setiap aktivitasnya di dunia maya. Rasulullah SAW
mengajarkan agar seorang Muslim berkata baik atau memilih diam. Prinsip ini
menjadi semakin penting di era media sosial ketika satu kalimat yang ditulis
secara tergesa-gesa dapat menyebar luas dan meninggalkan jejak yang sulit
dihapus. Apa yang dianggap ringan oleh pelakunya bisa saja menimbulkan luka,
kemarahan, atau bahkan perpecahan di tengah masyarakat. Karena itu, media
sosial semestinya digunakan sebagai sarana menyebarkan ilmu, kebaikan, dan nilai-nilai
yang bermanfaat. Di tengah derasnya arus informasi dan persaingan memperebutkan
perhatian publik, menjaga adab dalam berbicara dan menulis tetap menjadi salah
satu bentuk ketakwaan yang paling relevan pada zaman ini.
Sumber : https://iqra.republika.co.id/

😇
ReplyDelete