Siapa
sangka, salah satu pelajaran paling menarik tentang umur panjang justru datang
dari makhluk yang sehari-hari kita pakai untuk membuat roti, tape, tempe,
kecap, hingga berbagai produk fermentasi. Namanya ragi. Inilah makhluk
mikroskopis yang bahkan sering kalah populer dibandingkan kemasan produknya
sendiri. Penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah eLife itu memiliki judul
yang cukup panjang dan terdengar seperti mantra laboratorium: "Deletion of
Sulfate Transporter SUL1 Extends Yeast Replicative Lifespan via Reduced PKA
Signaling Instead of Decreased Sulfate Uptake". Penelitiannya berasal dari
Sichuan Provincial People's Hospital, University of Electronic Science and
Technology of China, serta University of California San Francisco. Nama-nama seperti
Juan Long, Meng Ma, Yuting Chen, Bo Gong, Yi Zheng, Hao Li, dan Jing Yang
mungkin tidak akan menjadi bintang sinetron, tetapi temuan mereka layak membuat
banyak orang mengernyitkan dahi. Karena yang mereka temukan sebenarnya bukan
sekadar soal ragi. Mereka sedang mengintip salah satu rahasia paling tua dalam
sejarah kehidupan : mengapa makhluk hidup menua, dan bagaimana proses itu bisa
diperlambat.
Awalnya
para peneliti mempelajari sebuah gen bernama SUL1. Tugasnya sederhana: menjadi
"pintu masuk" sulfat dari luar sel ke dalam tubuh ragi. Sulfat
sendiri penting. Dari sinilah lahir berbagai senyawa vital seperti metionin,
sistein, glutathione, dan banyak komponen yang diperlukan kehidupan. Logika
awam akan berkata, kalau pintu masuk nutrisi penting ditutup, umur pasti lebih
pendek. Sama seperti warung yang ditutup pasokan berasnya. Cepat atau lambat
tutup permanen. Ternyata tidak. Ketika gen SUL1 dihapus, ragi justru hidup
lebih lama. Di titik ini para ilmuwan mungkin sempat menggaruk kepala lebih
keras daripada mahasiswa yang baru sadar besok ujian. Mereka lalu menguji
berbagai kemungkinan. Apakah umur panjang itu terjadi karena ragi menerima
lebih sedikit sulfat? Ternyata bukan. Apakah karena produksi senyawa sulfur
tertentu berkurang? Bukan juga. Bahkan ketika dibuat mutasi yang mengganggu
kemampuan transport sulfat tanpa menghilangkan proteinnya, efek umur panjang
tidak muncul. Artinya, masalahnya bukan pada sulfat. Yang berubah ternyata cara
sel "merasakan" keadaan dirinya.
Di
sinilah penelitian ini menjadi menarik secara filosofis. Ragi yang kehilangan
SUL1 seolah mengira dirinya sedang mengalami masa sulit. Ia merasa sumber daya
menipis. Ia merasa zaman sedang tidak baik-baik saja. Maka ia berhenti bersikap
boros. Sel mulai mengurangi aktivitas pertumbuhan yang agresif. Produksi
berbagai cadangan energi seperti trehalosa dan glikogen meningkat. Sistem
pertahanan stres diperkuat. Program pembersihan sampah sel yang dikenal sebagai
autophagy diperbesar. Mesin-mesin yang tidak terlalu diperlukan dimatikan. Sel
memasuki mode hemat energi. Kalau diibaratkan manusia, ini seperti seseorang
yang mendengar kabar krisis ekonomi. Ia membatalkan pembelian mobil baru, memperbaiki
atap rumah yang bocor, menabung lebih banyak, mengurangi pesta, dan mulai hidup
lebih disiplin. Anehnya, justru karena sikap itulah ia bertahan lebih lama. Penelitian
ini menunjukkan sesuatu yang sering luput dari perhatian kita. Yang menentukan
umur panjang ternyata tidak selalu jumlah sumber daya yang kita miliki. Yang
lebih penting adalah bagaimana tubuh merespons keberadaan sumber daya itu.
Dalam
bahasa ilmiah, yang berperan besar adalah jalur sinyal bernama PKA. Dalam
bahasa warung kopi, mungkin bisa disebut "pusat keputusan manajemen
sel". Ketika sinyal PKA diturunkan, sel menjadi lebih waspada. Ia berhenti
hidup seperti pejabat yang baru mendapat anggaran tambahan. Ia mulai hidup
seperti bendahara yang tahu kas sedang tipis. Dan hasilnya, umur menjadi lebih
panjang. Di sinilah letak pelajaran besarnya. Selama ini banyak orang
membayangkan rahasia awet muda berada pada benda tertentu. Pil tertentu.
Vitamin tertentu. Makanan tertentu. Suplemen tertentu. Seolah ada satu bahan
ajaib yang dapat dibeli, ditelan, lalu usia langsung melambat. Padahal
penelitian ini mengingatkan bahwa yang lebih penting bisa jadi bukan zatnya,
melainkan sinyal yang ditimbulkan oleh zat tersebut. Tubuh ternyata lebih mirip
pemerintah daripada gudang. Yang menentukan bukan hanya berapa banyak stok
beras yang tersedia, tetapi keputusan apa yang diambil setelah melihat stok
itu. Kita pun melihat pola yang sama berulang kali dalam ilmu penuaan modern.
Pembatasan kalori, puasa berkala, olahraga, paparan dingin, bahkan berbagai
bentuk stres ringan yang terkendali sering kali menunjukkan manfaat biologis.
Bukan
karena tubuh disiksa, melainkan karena tubuh dipaksa mengaktifkan mode bertahan
hidup yang selama jutaan tahun evolusi telah dirancang untuk menghadapi
masa-masa sulit. Dengan kata lain, kehidupan tampaknya tidak tumbuh kuat karena
selalu dimanjakan. Ia justru menjadi tangguh karena sesekali dipaksa berjaga. Maka
pelajaran dari ragi ini terasa agak lucu. Selama berabad-abad manusia
memanfaatkan ragi untuk membuat makanan lebih lezat. Kini ragi membalas budi dengan
memberi pelajaran tentang umur panjang. Ragi yang ukurannya tak terlihat mata
ternyata sedang berbisik kepada umat manusia: mungkin rahasia hidup lebih lama
bukanlah tentang menambah sebanyak mungkin, melainkan mengetahui kapan harus
mengurangi. Karena dalam banyak hal, yang mempercepat penuaan bukan kekurangan.
Melainkan rasa berlebihan yang membuat seluruh sistem lupa cara bertahan hidup.
Oleh
: Ahmadie Thaha
Sumber : https://analisis.republika.co.id/

Comments
Post a Comment