Pakar
ekonomi syariah, Prof. Dr. Muhammad Syafii Antonio, Lc., M.Ec., menjadi salah
satu pembicara dalam acara Amazing Muharram 15 "Reset Your Life". Ia
membeberkan bagaimana cara mengubah pola pikir negatif menjadi positif
berdasarkan tuntunan syariat Islam. Acara tersebut diselenggarakan di Ritz
Carlton, Pacific Place, Jakarta, Minggu (12/7/2026). Prof. Syafii Antonio
menegaskan, banyak orang gagal dalam hidup bukan karena kurangnya kemampuan.
Kegagalan tersebut lebih sering dipicu oleh pola pikir yang keliru. Beliau
membeberkan 5 kesalahan pola pikir yang kerap membelenggu manusia. Pola pikir
ini pun harus diubah.
1.
Hancurkan Mentalitas Korban (Victim Mentality)
Islam
menentang keras sikap pasrah yang destruktif dan gemar menyalahkan lingkungan.
Prof. Syafii mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Ar-Ra'd ayat 11:
"Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada
pada diri mereka sendiri."
Sikap
mental pejuang ini juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam Sahih Muslim yang
memerintahkan umatnya untuk menjadi mukmin yang kuat, bersungguh-sungguh pada
hal yang bermanfaat, dan tidak bersikap lemah. Prof. Syafii juga mencontohkan
ketangguhan batin ulama klasik Ibnu Taimiyah Rahimahullah (661–728 H) adalah
ulama besar bermazhab Hambali yang sangat cerdas, produktif, dan gigih membela
kemurnian ajaran Islam yang menegaskan bahwa surga dan kebahagiaannya ada di
dalam dadanya, sehingga intervensi musuh sekalipun tidak bisa merusak kedamaian
hatinya.
2.
Luruskan Prasangka dan Keyakinan Keliru
Pola
pikir negatif sering kali merusak masa depan seseorang karena ia berprasangka
buruk pada ketetapan Allah. Padahal, Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi
riwayat Sahih al-Bukhari: "Aku sesuai persangkaan hamba-Ku
kepada-Ku." Jika hamba-Nya berprasangka baik, maka kebaikan yang akan
didapatkannya. Sebaliknya, prasangka buruk hanya akan mendatangkan kesuraman.
3.
Jangan Cemas pada Hal yang Sudah Dijamin Allah
Rasa
takut berlebihan mengenai masa depan dan rezeki harus dikikis dengan tawakal
yang kokoh. Prof. Syafii mengutip nasihat mendalam dari Ibnu al-Qayyim
rahimahullah: "Kosongkan pikiranmu untuk memperhatikan apa yang
diperintahkan kepadamu, dan jangan sibukkan ia dengan apa yang telah dijamin
untukmu; karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang telah dijamin."
Manusia diminta fokus berikhtiar secara maksimal, sementara hasil akhirnya
dipasrahkan penuh kepada Allah SWT.
4.
Menepis Asumsi Negatif dengan Budaya Tabayyun
Prasangka
buruk merupakan ucapan yang paling dusta. Prof. Syafii mengajak umat Islam
untuk menyibukkan diri dengan aib dan perbaikan diri sendiri ketimbang
mencari-cari kesalahan orang lain. Hal ini sejalan dengan nasihat Ibnu Hibban
yang menyatakan bahwa orang yang fokus pada perbaikan diri akan
mengistirahatkan jiwanya dan menjaga kedamaian hatinya dari kelelahan
prasangka.
5.
Masa Lalu Adalah Pelajaran, Bukan Penjara
Menangisi
masa lalu yang kelam tidak akan mengubah hari ini. Al-Qur'an Surat Al-Hadid
ayat 23 mengingatkan manusia agar tidak bersedih hati atas apa yang telah
luput. Prof. Syafii menegaskan, menggunakan kalimat "seandainya"
dalam menyikapi kegagalan masa lalu dilarang oleh Nabi SAW karena hal itu
membuka pintu bagi tipu daya setan untuk melemahkan jiwa.
Sumber : https://www.detik.com/hikmah

Comments
Post a Comment