Manusia
terus mencari kebahagiaan. Namun, banyak di antara mereka yang tersesat dari
jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Mereka berlari mengejar fatamorgana yang
tidak memiliki hakikat. Mereka mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta
dan kedudukan, pada pemuasan hawa nafsu dan kemewahan, atau pada popularitas
serta kenikmatan dunia yang fana. Padahal semua itu hanyalah kebahagiaan semu
yang menipu hati dan melalaikan akal. Banyak orang yang memiliki harta melimpah
dan kekayaan berlimpah, tetapi tidak menunaikan hak-hak yang ada pada hartanya.
Mereka justru menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan dan kegelisahan,
bahkan sebelum datangnya kehidupan akhirat. Mengapa demikian ? karena seluruh
hidup mereka dihabiskan untuk menjaga, mengembangkan, dan mempertahankan
kekayaannya. Mereka terus dihantui rasa cemas dan takut kehilangan harta yang
dimiliki. Betapa banyak orang yang memiliki kekayaan hingga miliaran, tetapi
hidupnya dipenuhi kecemasan. Mengapa mereka begitu takut ? Mengapa hati mereka
tidak pernah tenang ? karena mereka selalu khawatir hartanya lenyap, dirampas
oleh musibah, krisis ekonomi, peperangan, atau berbagai peristiwa yang dapat
menghilangkan seluruh kekayaannya.
Berapa banyak orang kaya yang menjadi korban penculikan atau pembunuhan karena kekayaannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru kehilangan kebebasan akibat hartanya. Mereka tidak dapat berjalan dengan leluasa, tidak bisa bepergian sesuka hati, bahkan tidak dapat tidur dengan tenang. Semua itu terjadi karena kekayaan yang mereka miliki. Lebih dari itu, tidak sedikit orang yang suatu ketika memiliki harta berlimpah, namun kemudian seluruh kekayaannya lenyap karena berbagai sebab, sehingga sisa hidupnya dijalani dalam penderitaan dan kesedihan. Karena itu, harta semata tidak cukup untuk menghadirkan kebahagiaan. Kekayaan saja tidak mampu memberikan ketenangan hidup. Salah satu ilusi terbesar tentang kebahagiaan adalah anggapan bahwa kebahagiaan pasti diperoleh melalui kekayaan dan kesuksesan dalam berdagang. Padahal, seseorang baru benar-benar dapat merasakan kebahagiaan melalui hartanya apabila harta itu diperoleh dengan cara yang halal dan tidak membuatnya lalai dari mengingat Allah SWT. Sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan hamba yang saleh. Sebaliknya, apabila harta diperoleh dari jalan yang haram, maka ia justru menjadi sumber azab. Rasulullah SAW bahkan berdoa:
وأعوذ
بك من مال يكون عليَّ عذابًا
"Aku
berlindung kepada-Mu dari harta yang menjadi sebab azab bagiku."
Betapa
banyak orang yang justru disiksa oleh hartanya sendiri. Di antara ilusi lainnya
adalah anggapan bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui ketenaran, baik di dunia
olahraga, seni, maupun hiburan. Padahal ketenaran yang tidak dibangun di atas
ketakwaan kepada Allah bukanlah kebahagiaan, melainkan sumber kesengsaraan.
Popularitas sejatinya tidak memiliki nilai yang hakiki apabila tidak diiringi
ketakwaan. Bahkan orang yang benar-benar bertakwa tidak menjadikan popularitas
sebagai tujuan hidupnya. Sebab, ketenaran yang tidak dibangun di atas landasan
yang benar akan cepat sirna. Ketika ketenaran itu hilang, pemiliknya sering
kali terjerumus dalam kesedihan dan penderitaan. Banyak orang mengira bahwa
para atlet adalah orang-orang yang paling bahagia. Padahal kenyataannya,
sebagian besar dari mereka menjalani hidup yang penuh tekanan. Mereka berpindah
dari satu pertandingan ke pertandingan lain, dari satu perjalanan ke perjalanan
berikutnya. Waktu bersama diri sendiri dan keluarga sangat sedikit. Belum lagi
tekanan mental menjelang setiap pertandingan, kesedihan setiap kali mengalami
kekalahan, serta cedera yang selalu mengintai dari berbagai arah. Ditambah lagi
rasa takut terhadap penilaian publik ketika performa mereka menurun. Semua itu
membuat mereka hidup dalam tekanan yang berkepanjangan. Setelah pensiun,
masyarakat perlahan melupakan mereka, sehingga rasa kehilangan dan kesedihan
pun semakin bertambah.
Karena
itu, kebahagiaan tidak terletak pada dunia olahraga, meskipun banyak orang
mengiranya demikian. Demikian pula kebahagiaan tidak terdapat pada dunia tarik
suara, hiburan, maupun seni peran. Tidak sedikit pelaku dunia hiburan yang
justru menjalani kehidupan yang penuh kegagalan, keretakan rumah tangga,
terjerumus ke dalam narkoba, kerusakan moral, hilangnya rasa malu, dan pudarnya
nilai-nilai kebajikan. Sebagian orang juga mengira bahwa kebahagiaan terletak
pada banyaknya anak dan pengikut yang akan membela, menguatkan, serta
meneruskan nama baik seseorang. Namun kenyataannya, tidak sedikit anak yang
justru membangkang kepada orang tuanya, bahkan berubah menjadi musuh terbesar
bagi mereka dan menjadi penyebab penderitaan hidupnya. Lalu, di manakah kebahagiaan
sejati jika bukan pada semua kenikmatan dunia itu ? Alquran memberikan jawaban
yang sangat jelas:
وَمَا
أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا
مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا
وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ
“Dan
sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan
kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda
disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di
tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS Saba': 37).
Alquran
juga mengajak manusia merenung melalui firman Allah:
أَفَرَأَيْتَ
إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ ثُمَّ جَاءَهُمْ مَا كَانُوا يُوعَدُونَ مَا أَغْنَى عَنْهُمْ
مَا كَانُوا يُمَتَّعُونَ
“Maka
bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup
bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada
mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.”
(QS Asy-Syu'ara: 205–207).
Itulah
hakikat kebahagiaan semu yang sering disangka manusia sebagai kebahagiaan
sejati. Banyak orang yang dari luar tampak bahagia, padahal dalam kenyataannya
mereka menelan kepahitan hidup, penderitaan, dan penyesalan setiap hari. Salah
satu contoh paling nyata dari kebahagiaan semu dapat dilihat pada sebagian
negara yang sangat kaya, baik dari sisi kekayaan negara maupun pendapatan per
kapitanya. Namun ironisnya, negara-negara tersebut justru mencatat angka bunuh
diri yang sangat tinggi. Sebagai contoh, Swedia termasuk salah satu negara
dengan pendapatan per kapita yang tinggi. Namun negara itu juga dikenal
memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi. Sebaliknya, banyak negara Islam yang
secara ekonomi tergolong miskin, tetapi justru mencatat angka bunuh diri yang
jauh lebih rendah.
Sebagian
orang juga mengira bahwa kebahagiaan dapat diperoleh melalui kesombongan,
kezaliman, dan sikap sewenang-wenang. Padahal kezaliman selalu berakhir dengan
kebinasaan, dan akibatnya sangat buruk, baik di dunia maupun di akhirat. Ada
pula orang yang menggantungkan kebahagiaannya kepada selain Allah. Misalnya,
seseorang yang hatinya begitu terpaut kepada kekasihnya hingga melampaui batas.
Cukuplah kisah Majnun Laila sebagai pelajaran. Demi cintanya, ia hidup
terlunta-lunta hingga kehilangan akal sehat dan akhirnya meninggal dalam
keadaan tenggelam dalam cintanya. Betapa banyak orang yang meninggal karena
cinta yang berlebihan, menghadap Allah sementara hatinya bergantung kepada
selain-Nya.
Sungguh
itu merupakan kerugian besar, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagian lainnya
mengira bahwa kebahagiaan dapat diraih melalui minuman keras dan narkoba.
Mereka menggunakannya untuk melarikan diri dari beban hidup, kesedihan, dan
berbagai persoalan dunia. Namun yang mereka dapatkan justru bagaikan orang yang
menghindari panas api, tetapi malah terjatuh ke dalam kobaran api yang lebih
dahsyat. Sesungguhnya narkoba hanya mendatangkan kesengsaraan, keputusasaan,
kerusakan moral, serta kehancuran individu, keluarga, masyarakat, bahkan
bangsa.
Realitas
yang kita saksikan pada hari ini sudah lebih dari cukup menjadi bukti akan
bahaya tersebut. Maka hendaklah orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan keadaan mereka melalui firman-Nya:
وَمَنْ
أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَعْمَىٰ
“Dan
barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan
buta." (QS Thaha: 124).
Ibnu
Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kehidupan di dunia.
Orang seperti itu tidak akan memperoleh ketenangan hati ataupun kelapangan
dada. Meskipun secara lahiriah ia hidup bergelimang kenikmatan, mengenakan
pakaian yang indah, menikmati makanan yang lezat, dan tinggal di tempat yang
mewah, selama hatinya belum dipenuhi keyakinan dan petunjuk Allah, ia akan
terus hidup dalam kegelisahan, kebimbangan, dan keraguan. Itulah makna
kehidupan yang sempit. Ada pula orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan akan
datang apabila ia menikah, memiliki anak, atau menjadi kaya. Padahal semua itu
justru bisa menjadi ujian yang berat apabila tidak disertai dengan kebaikan.
فعن
أبي هريرة رضي الله عنه قال: كان من دعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم: اللهم إني
أعوذ بك من جار السوء، ومن زوج تشيبني قبل المشيب، ومن ولد يكون عليَّ ربًا، ومن مال
يكون عليَّ عذابًا، ومن خليل ماكر عينه تراني وقلبه يرعاني، إن رأى حسنةً دفنها، وإذا
رأى سيئةً أذاعها
Dari
Abu Hurairah RA diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk, dari pasangan
yang membuatku beruban sebelum waktunya, dari anak yang menjadi penguasa atas
diriku, dari harta yang menjadi sebab azab bagiku, serta dari teman yang licik;
matanya melihatku, tetapi hatinya mengawasiku. Jika ia melihat kebaikanku, ia
menyembunyikannya, dan jika melihat keburukanku, ia menyebarkannya."
Sesungguhnya
manusia terdiri dari jasad dan ruh. Janganlah seseorang mengira bahwa ia telah
memperoleh kebahagiaan hanya karena memenuhi kebutuhan jasadnya. Ia juga harus
memperhatikan kebutuhan ruhnya. Kebahagiaan ruh hanya dapat diraih melalui
ketaatan kepada Allah, memperbanyak zikir kepada-Nya, istiqamah di atas
jalan-Nya, serta menjauhi segala bentuk maksiat dan dosa.
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/

Comments
Post a Comment