Syukur
dan sabar merupakan dua akhlak utama yang selalu diajarkan kepada setiap
Muslim. Namun, muncul pertanyaan yang telah lama menjadi bahan perenungan para
ulama: manakah yang lebih utama di sisi Allah SWT, orang yang bersyukur atas
nikmat atau orang yang bersabar ketika menghadapi ujian ? Imam Abu Hamid
Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali yang dikenal Imam Al-Ghazali dalam Minhajul
Abidin mengulas perbedaan pandangan antara bersyukur dan bersabar yang lebih
Utama. Imam Al-Ghazali menjelaskan hubungan mendalam antara syukur dan sabar
yang pada hakikatnya saling melengkapi dalam perjalanan seorang hamba menuju
Allah SWT. Dijelaskan bahwa ada yang berpendapat, orang yang bersyukur itu
lebih utama. Ini berdasarkan dalil firman Allah Ta'ala berikut ini. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَعْمَلُوْنَ
لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ
رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
.
. . . . . Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur. (QS Saba'
Ayat 13)
Allah
SWT menempatkan orang yang bersyukur sebagai orang-orang yang khusus dari yang
khusus. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman ketika memuji Nabi Nuh
Alaihissalam.
ذُرِّيَّةَ
مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا
(Wahai)
keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba
(Allah) yang banyak bersyukur.” (QS Al-Isra' Ayat 3)
Demikian
juga dengan apa yang pernah dimohon oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam, seperti
diceritakan dalam firman Allah Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
شَاكِرًا
لِّاَنْعُمِهِ ۖاجْتَبٰىهُ وَهَدٰىهُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
(Ibrahim)
bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya (dan Allah) telah memilih serta menunjukannya
ke jalan yang lurus. (QS An-Nahl Ayat 121)
Karena
syukur berada pada tataran nikmat dan keselamatan (afiyah), maka ada yang
mengatakan, “Kalau aku diberi nikmat, kemudian aku bersyukur, maka hal itu
lebih aku sukai daripada diuji kemudian bersabar.”
Ada
juga yang berpendapat bahwa sabar itu lebih utama, karena lebih berat untuk
dihadapi. Sehingga pahalanya lebih besar dan lebih tinggi kedudukannya. Ini
disandarkan pada firman Allah SWT. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَخُذْ
بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ
الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ
.
. . . . . Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah
sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia selalu kembali (kepada Allah dan sangat
taat). (QS Sad Ayat 44)
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ
يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ
هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ
وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ
اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada
Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan.
Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang
disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan. (QS Az-Zumar Ayat 10)
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَكَاَيِّنْ
مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ
فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
.
. . . . . Allah mencintai orang-orang yang sabar. (QS Ali ‘Imran Ayat 146)
Imam
Al-Ghazali menjelaskan, orang yang bersyukur itu pada hakikatnya juga orang
yang bersabar. Sebaliknya, orang yang bersabar itu pada hakikatnya juga orang
yang bersyukur. Sebab, orang yang bersyukur dalam ujian, juga bersabar terhadap
ujian itu. Sehingga dia tidak larut dalam kesedihan. Sebab, syukur itu adalah
mengagungkan Sang Pemberi nikmat dalam batas yang mencegahnya dari kedurhakaan
terhadap-Nya. Sementara itu, kesedihan
yang berlarut-larut adalah suatu bentuk kedurhakaan (maksiat). Orang yang
bersabar tidak terlepas dari nikmat, seperti yang telah kami sebutkan, bahwa
kesusahan-kesusahan itu pada hakikatnya merupakan nikmat sebagaimana dijelaskan
sebelumnya.
Jadi,
pada hakikatnya jika seorang hamba itu bersabar terhadap ujian yang menimpanya,
maka itu merupakan perwujudan dari rasa syukur. Sebab, ia menahan hatinya dari
kesedihan yang mendalam, dengan cara mengagungkan Allah Ta'ala. Pengagungan
kepada Allah itu juga yang mencegah dirinya dari berbuat durhaka kepada-Nya.
Orang yang bersyukur itu juga mencegah dirinya dari kekufuran, sehingga ia
mampu bersabar untuk tidak melakukan maksiat, serta bersabar dalam ketaatan.
Maka, pada hakikatnya ia pun menjadi orang yang bersabar.
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/

😇
ReplyDelete