Ada
kegelisahan yang sedang tumbuh di tengah keluarga-keluarga Indonesia. Bukan
semata tentang apakah seorang anak mempunyai ayah, melainkan apakah ayah
benar-benar hadir dalam kehidupan anaknya. Data Pemutakhiran Pendataan Keluarga
2025 yang dikutip Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN
menyebut indeks fatherless Indonesia mencapai 25,8 persen. Istilah itu tidak
selalu berarti seorang anak kehilangan ayah secara fisik, tetapi juga mencakup
kondisi ketika peran, perhatian, komunikasi, kasih sayang, dan keterlibatan
ayah dalam pengasuhan tidak hadir secara optimal. Angka itu membuat persoalan
fatherless bukan lagi sekadar percakapan di media sosial. Jika mengacu pada
definisi yang digunakan Kemendukbangga/BKKBN, sekitar satu dari empat anak berada
dalam keluarga dengan keterlibatan ayah yang belum optimal. Pemerintah
merespons keadaan tersebut antara lain melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia
atau GATI.
Program
nasional ini diarahkan untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan,
pendidikan, dan perlindungan anak, sekaligus mengingatkan bahwa tugas seorang
ayah tidak selesai ketika kebutuhan ekonomi keluarga terpenuhi. Gerakan itu
masih digencarkan hingga Agustus 2026. Di Jawa Barat, misalnya,
Kemendukbangga/BKKBN pada 10 Agustus kembali mendorong Kelas Ayah Teladan untuk
memperkuat keterlibatan ayah sejak kehamilan, persalinan, hingga pengasuhan
keluarga. Di Jawa Timur, skalanya bahkan sangat besar. Provinsi tersebut
memiliki sasaran GATI sebanyak 569.018 orang dan hingga Juli 2026 sebanyak
412.426 orang disebut telah memperoleh edukasi mengenai peran ayah. Di tengah
kegelisahan itu, ada sebuah kalimat dari Alquran yang terasa sangat menarik
untuk direnungkan. Ketika kita sedang mencari kembali apa arti keluarga,
Alquran membawa kita kepada sebuah keluarga yang namanya telah bertahan
melintasi ribuan tahun.
Bukan
keluarga yang diperkenalkan karena kekayaannya. Bukan pula keluarga yang
dikenang karena kekuasaan politiknya. Namanya adalah keluarga Imran. Begitu
istimewanya keluarga ini sehingga namanya menjadi nama surah ketiga dalam
Alquran. Allah bahkan menyebut keluarga Imran dalam satu rangkaian dengan Adam,
Nuh, dan keluarga Ibrahim sebagai manusia dan keluarga yang dipilih-Nya.
Mungkin di sinilah percakapan tentang fatherless memperoleh dimensi yang lebih
dalam. Persoalan keluarga ternyata bukan hanya tentang siapa yang tinggal
serumah, tetapi tentang nilai apa yang hidup di dalam rumah itu dan apa yang
diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
إِنَّ
اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya
Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi
segala umat pada masa masing-masing.” (QS Ali ‘Imran [3]: 33).
Satu
kata dalam ayat itu terasa sangat kuat. Iṣṭafā. Allah memilih. Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa Allah mengabarkan Dia memilih orang-orang dan keluarga yang
disebut dalam ayat tersebut dibanding manusia lainnya. Adam mendapat kedudukan
yang istimewa; Nuh diutus ketika kemusyrikan telah berkembang di tengah
manusia; kemudian Allah menyebut keluarga Ibrahim dan keluarga Imran.
Menariknya, ketika sampai kepada Ibrahim dan Imran, Alquran tidak hanya
menyebut individu. Allah berfirman:
وَآلَ
إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ
“Keluarga
Ibrahim dan keluarga Imran.”
Di
sinilah ayat tersebut terasa begitu dekat dengan persoalan keluarga hari ini.
Alquran memperlihatkan bahwa kebaikan tidak harus berhenti pada seorang
manusia, tetapi dapat hidup, tumbuh, dan diteruskan dalam sebuah keluarga. Ayat
sesudahnya bahkan mengatakan:
ذُرِّيَّةً
بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Mereka
adalah keturunan yang satu berasal dari yang lain. Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 34)
Ada
kesinambungan di sana. Ada generasi. Ada sesuatu yang diwariskan. Tetapi yang
diwariskan bukan semata darah atau nama keluarga. Rangkaian ayat sesudahnya
justru membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih halus : doa, pengabdian,
pendidikan, dan orientasi kepada Allah. Setelah Allah menyebut keluarga Imran
sebagai keluarga pilihan, Alquran tidak membawa kita ke istana mereka. Kita
justru dibawa ke sebuah percakapan pribadi seorang ibu dengan Tuhannya. Allah
berfirman pada ayat 35:
إِذْ
قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا
فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ketika
istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa
yang ada dalam kandunganku untuk mengabdi kepada-Mu. Maka terimalah dariku.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
Ibnu
Katsir menjelaskan bahwa istri Imran dalam ayat tersebut adalah ibu Maryam.
Dalam riwayat sejarah yang dibawakan dari Muhammad bin Ishaq, namanya disebut
Hannah binti Faqudz, seorang perempuan yang lama tidak memperoleh keturunan
sebelum kemudian memohon kepada Allah dan mengandung. Ada sesuatu yang
menggetarkan di sini. Sebelum anak itu lahir, sudah ada doa. Sebelum diketahui
anak itu akan tumbuh menjadi siapa, sudah ada orientasi tentang untuk apa
hidupnya kelak. Sebelum dunia memberikan identitas kepada sang anak, ibunya
telah menyerahkannya kepada Allah. Inilah salah satu bagian yang membuat kisah
keluarga Imran begitu relevan ketika hari ini kita berbicara tentang krisis
pengasuhan. Pengasuhan dalam Alquran tidak bermula ketika seorang anak sudah
bermasalah. Ia bahkan dapat bermula sebelum anak lahir.
Kemendukbangga/BKKBN dalam momentum Hari Anak Nasional 2026 menyampaikan sebuah gagasan yang menarik: investasi terbesar bangsa dimulai dari keluarga. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang sehat dan berkualitas dinilai mempunyai peluang lebih besar berkembang menjadi manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. Alquran membawa gagasan itu ke tempat yang lebih dalam. Keluarga bukan hanya institusi tempat anak mendapat makanan, pendidikan, tempat tinggal, atau perlindungan. Keluarga adalah tempat pertama seorang manusia belajar tentang arah hidup. Di rumah seorang anak pertama kali melihat bagaimana orang dewasa bereaksi ketika marah. Di rumah ia melihat apakah sebuah janji ditepati.
Di
rumah ia mengetahui bagaimana ayah memperlakukan ibu dan bagaimana ibu
berbicara kepada ayah. Di rumah pula ia pertama kali mengenal doa, mendengar
nama Allah, melihat shalat, belajar meminta maaf, dan memahami bahwa hidup
tidak hanya berpusat pada dirinya. Karena itu ketidakhadiran seorang ayah tidak
selalu dapat diukur melalui keberadaan tubuhnya di dalam rumah. Seorang ayah
bisa pulang setiap malam tetapi secara emosional hampir tidak pernah hadir. Ia
mungkin membayar biaya sekolah, tetapi tidak pernah mengetahui apa yang sedang
ditakuti anaknya. Ia mungkin berada satu ruangan dengan anak, tetapi
perhatiannya selalu berada di layar telepon.
Inilah
sebabnya definisi fatherless yang digunakan BKKBN menjadi penting.
Ketidakhadiran ayah dapat berbentuk fisik maupun emosional, dan pemerintah kini
berusaha mengoreksinya melalui penguatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Namun
kisah keluarga Imran mengingatkan bahwa keterlibatan orang tua bukan hanya
persoalan jumlah waktu. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: Ke mana anak itu
sedang diarahkan? Kita hidup pada zaman ketika orang tua sering sudah
memikirkan sekolah seorang anak bahkan sebelum anak cukup umur masuk sekolah.
Kita menyiapkan tabungan pendidikan. Kita membicarakan universitas. Kita
khawatir tentang pekerjaan. Kita ingin anak menguasai bahasa asing, teknologi,
matematika, atau keterampilan yang akan membuatnya mampu bersaing. Semua itu
penting.
Namun
istri Imran mengajarkan sebuah pertanyaan yang datang lebih dahulu daripada
semua itu. Untuk apa anak ini hidup? Ketika berkata, “Aku menazarkan kepada-Mu
apa yang ada dalam kandunganku,” ia tidak sedang menyusun karier anaknya. Ia
sedang menentukan orientasi hatinya sendiri sebagai seorang ibu. Anak itu bukan
sekadar proyek keberhasilan orang tua. Anak adalah amanah Allah. Perbedaannya
sangat besar. Ketika seorang anak dilihat sebagai proyek keberhasilan orang
tua, nilai dirinya mudah diukur melalui ranking, sekolah, universitas,
pekerjaan, pendapatan, atau status sosial. Namun ketika anak dilihat sebagai
amanah, pertanyaannya berubah. Apakah ia jujur? Apakah ia mengenal Allah?
Apakah ia memiliki kasih sayang? Apakah ia bermanfaat bagi manusia? Apakah
ketika dewasa ia memiliki sesuatu yang membuat dunia menjadi sedikit lebih baik
karena kehadirannya? Ada bagian yang sangat manusiawi dalam kisah itu. Istri
Imran ternyata melahirkan seorang anak perempuan. Ia berkata:
رَبِّ
إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ
“Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku telah melahirkan seorang anak perempuan.”
Ia
kemudian memberi anak itu nama Maryam dan memohon perlindungan Allah untuk
Maryam serta keturunannya dari setan yang terkutuk. Ibnu Katsir ketika membahas
rangkaian ayat tersebut membawa hadis Abu Hurairah tentang Maryam dan putranya.
Dalam riwayat sahih, Nabi Muhammad SAW menjelaskan adanya perlindungan khusus
Allah terhadap Maryam dan Isa dari gangguan setan ketika kelahiran; riwayat
mengenai hal tersebut terdapat dalam Shahih Bukhari dan juga diriwayatkan
Muslim. Sekali lagi kita bertemu dengan doa seorang ibu. Sekali lagi, doa itu
tidak berhenti pada anak yang berada di hadapannya. Ia berkata:
وَذُرِّيَّتَهَا
“Dan
keturunannya.”
Di
sinilah tadabur ini perlu berhenti sejenak. Kegelisahan tentang fatherless
merebak, dan upaya menghadirkan kembali ayah dalam pengasuhan terus dilakukan.
Namun ketika membuka kisah keluarga Imran, tokoh yang langsung diperlihatkan
Alquran justru seorang ibu. Barangkali di sinilah kita mendapat pelajaran
penting: membangun generasi bukan kompetisi antara ayah dan ibu. Keluarga
membutuhkan keduanya menjalankan amanah masing-masing. GATI mengingatkan
masyarakat Indonesia agar ayah tidak merasa tugasnya selesai hanya dengan
mencari nafkah. Kisah istri Imran pada sisi lain memperlihatkan betapa
dahsyatnya orientasi spiritual seorang ibu bagi kehidupan anak. Keduanya
membawa kita pada satu titik yang sama. Anak tidak cukup hanya “dibesarkan”. Ia
perlu ditemani. Ia perlu didoakan. Ia perlu diarahkan. Ia perlu melihat nilai
yang kita bicarakan benar-benar hidup dalam diri kita.
Kata
“dipilih” dalam QS Ali ‘Imran ayat 33 jangan membuat kita membayangkan sebuah
keluarga tanpa kesulitan. Jika kita mengikuti kehidupan orang-orang yang
disebut dalam ayat tersebut, justru kita menemukan ujian yang sangat berat. Adam
menjalani pengalaman jatuh dan bertobat. Nuh menghadapi penolakan kaumnya dalam
perjuangan dakwah yang panjang. Ibrahim melewati berbagai ujian besar dalam
perjalanan tauhidnya. Maryam menghadapi ujian luar biasa ketika harus datang
kepada kaumnya membawa bayi Isa. Maka menjadi pilihan Allah tidak identik
dengan memiliki kehidupan yang selalu mudah. Kemuliaan sebuah keluarga juga
tidak berarti keluarga itu tidak pernah menangis. Barangkali justru salah satu
ukuran keluarga yang kuat adalah bagaimana mereka kembali kepada Allah ketika
ujian datang.
Sumber : https://iqra.republika.co.id/


Comments
Post a Comment