Keluarga
barangkali seperti sebuah kebun. Orang tua menggemburkan tanahnya. Mereka
menanam benih. Mereka menyiram. Mereka membersihkan sesuatu yang merusak.
Tetapi tidak ada seorang petani pun yang dapat menarik batang tanaman ke atas
agar cepat tinggi. Ia hanya dapat merawat. Pertumbuhan tetap merupakan sesuatu
yang berada di luar kuasanya. Begitu pula anak. Orang tua dapat mengajarkan
Alquran, tetapi tidak dapat memaksa hidayah masuk ke dalam hati. Orang tua
dapat memberikan sekolah terbaik, tetapi tidak dapat membeli akhlak. Orang tua
dapat memberikan nasihat, tetapi tidak dapat menjamin setiap nasihat langsung
diterima. Maka tugas kita adalah menanam sebaik mungkin. Sedangkan hasil
akhirnya tetap kita serahkan kepada Allah. Keluarga Imran juga seperti mata
air.
Air
yang muncul di satu tempat dapat mengalir jauh melampaui sumbernya. Seseorang
yang menanam kebaikan dalam rumah mungkin tidak pernah tahu sejauh mana
kebaikan itu akan berjalan. Satu doa seorang ibu dapat menyertai anak selama
bertahun-tahun. Satu pelukan seorang ayah pada saat yang tepat dapat menjadi
ingatan yang menyelamatkan anak ketika kelak menghadapi masa sulit. Satu
kebiasaan shalat berjamaah mungkin baru terasa nilainya ketika anak telah
memiliki rumahnya sendiri. Kita sering tidak mengetahui seberapa jauh sesuatu
yang kecil di rumah akan mengalir.
Data
25,8 persen tentang fatherless terasa mengkhawatirkan. Namun barangkali ia
perlu kita baca bukan sekadar sebagai statistik, tetapi sebagai cermin.
Pertanyaannya bukan hanya: apakah ada ayah di rumah? Pertanyaannya juga: apakah
ayah hadir? Apakah seorang anak dapat menceritakan kegagalannya tanpa takut
dihina? Apakah ayah mengetahui nama sahabat anaknya? Apakah ia mengetahui apa
yang membuat anaknya menangis? Apakah ia pernah mengatakan bahwa ia mencintai
anaknya? Apakah ia memberikan contoh tentang bagaimana seorang laki-laki
memperlakukan perempuan dengan hormat? Apakah ia hanya bertanya tentang nilai
sekolah, atau juga bertanya tentang shalat? Namun tadabur keluarga Imran juga
mengingatkan agar persoalan ini tidak berubah menjadi tudingan kepada ayah semata.
Tidak semua ketidakhadiran terjadi karena kelalaian. Ada ayah yang harus
bekerja jauh. Ada keluarga yang tercerai karena kematian. Ada perceraian. Ada
kemiskinan yang memaksa orang tua meninggalkan rumah berbulan-bulan. Ada
keadaan yang tidak dipilih oleh keluarga. Karena itu angka harus membuat kita
berempati, bukan menghakimi. Yang dapat kita tanyakan adalah: dalam keadaan apa
pun yang Allah berikan kepada keluarga kita, apa yang masih dapat kita hadirkan
untuk anak-anak?
Indonesia
sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Tanggal itu masih hampir dua
dekade dari sekarang. Namun anak yang akan menjadi pemimpin, guru, ulama,
dokter, pengusaha, peneliti, tentara, wartawan, atau orang tua pada tahun itu
sedang duduk di meja makan keluarga hari ini. Sebagian masih digendong.
Sebagian sedang belajar berjalan. Sebagian baru memasuki sekolah. Sebagian
sedang menjadi remaja dan diam-diam mencari siapa yang dapat mereka jadikan
teladan. Generasi 2045 tidak tiba-tiba muncul pada 2045. Ia sedang dibentuk
sekarang. Di ruang keluarga. Di meja makan. Di perjalanan menuju sekolah. Di
percakapan kecil sebelum tidur. Di cara seorang ayah meminta maaf. Di cara
seorang ibu berdoa. Di cara kedua orang tua menghadapi perselisihan. Mungkin
itulah sebabnya pernyataan bahwa investasi terbesar bangsa dimulai dari
keluarga terasa sangat masuk akal. Negara dapat membangun sekolah, menyediakan
layanan kesehatan, membuka lapangan pekerjaan, dan membuat program pengasuhan,
tetapi ada ruang tertentu dalam jiwa anak yang pertama kali disentuh oleh
rumah.
QS
Ali ‘Imran ayat 33 membuat saya kembali kepada satu pertanyaan. Apa yang
sebenarnya ingin kita wariskan? Rumah? Tanah? Tabungan? Nama keluarga?
Pendidikan? Semua itu dapat menjadi nikmat. Namun keluarga Imran meninggalkan
warisan yang sama sekali berbeda. Iman. Pengabdian. Doa. Dan manusia yang
hidupnya diarahkan kepada Allah. Berapa banyak orang yang mengetahui seperti
apa rumah Imran? Kita bahkan tidak mewarisi gambaran tentang kekayaan keluarga
itu. Namun ribuan tahun kemudian, manusia di berbagai penjuru bumi masih
membaca nama mereka dalam shalat dan tilawah.
وَآلَ
عِمْرَانَ
“Dan
keluarga Imran.”
Ada
keluarga yang meninggalkan bangunan. Ada keluarga yang meninggalkan perusahaan.
Ada keluarga yang meninggalkan kekuasaan. Keluarga Imran meninggalkan jejak
iman. Data fatherless mungkin membuat kita khawatir. Gerakan Ayah Teladan
Indonesia mungkin mengingatkan para ayah untuk kembali hadir dalam pengasuhan,
dan program-program pemerintah dapat membantu keluarga memahami kembali
pentingnya peran orang tua. Tetapi Alquran membawa kita lebih jauh. Ia tidak
hanya bertanya apakah ayah hadir. Ia tidak hanya bertanya apakah ibu hadir. Ia
seakan mengajak kita bertanya : Apakah Allah hadir dalam orientasi keluarga
kita? Kita mungkin telah mempersiapkan sekolah anak. Sudahkah kita
mempersiapkan imannya?
Kita
mungkin memikirkan pekerjaan apa yang kelak akan membuatnya mapan. Pernahkah
kita bertanya manusia seperti apa yang kita berharap ia menjadi di hadapan
Allah? Kita mungkin bekerja keras meninggalkan sesuatu untuk anak-anak. Tetapi
pernahkah kita memikirkan apa yang ingin kita tinggalkan di dalam diri mereka? Tidak
semua keluarga akan dikenal manusia. Sebagian besar nama kita mungkin akan
hilang beberapa generasi setelah kita meninggal. Dan mungkin itu tidak masalah.
Sebab tujuan membangun keluarga bukan agar nama keluarga kita menjadi besar.
Kita hanya berharap rumah kecil yang Allah titipkan kepada kita menjadi tempat
tumbuhnya manusia yang mengenal-Nya. Kita tidak mampu memastikan anak-anak
menjadi seperti Maryam. Kita tidak mempunyai hak menuntut Allah agar keluarga
kita menjadi seperti keluarga Imran. Kita bahkan tidak mampu menjamin bagaimana
jalan hidup anak-anak setelah kita tidak lagi bersama mereka. Tetapi kita masih
bisa meniru sesuatu yang sangat sederhana dari rumah itu. Berdoa sebelum anak
lahir. Menanam kebaikan ketika ia tumbuh. Hadir ketika ia membutuhkan.
Mengarahkannya kepada Allah. Kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Sebab
ayat tentang keluarga pilihan itu tidak dimulai dengan kesombongan manusia
tentang keberhasilan mendidik keturunan. Ia dimulai dengan pengakuan tentang
siapa yang memegang seluruh hasil akhirnya:
إِنَّ
اللَّهَ اصْطَفَىٰ
“Sesungguhnya
Allah telah memilih.”
Maka
di tengah kekhawatiran tentang generasi fatherless dan cita-cita besar
membangun Generasi Emas 2045, barangkali kita perlu kembali memulainya dari
tempat yang paling sederhana. Dari rumah. Dari kehadiran seorang ayah. Dari doa
seorang ibu. Dari teladan yang dilihat anak setiap hari. Dan dari kesadaran
bahwa keluarga bukan sekadar tempat kita berasal. Keluarga adalah tempat sebuah
generasi mulai diarahkan ke mana ia akan berjalan.
Sumber : https://iqra.republika.co.id/


Comments
Post a Comment