Fatherless Generation [2]

 

Keluarga barangkali seperti sebuah kebun. Orang tua menggemburkan tanahnya. Mereka menanam benih. Mereka menyiram. Mereka membersihkan sesuatu yang merusak. Tetapi tidak ada seorang petani pun yang dapat menarik batang tanaman ke atas agar cepat tinggi. Ia hanya dapat merawat. Pertumbuhan tetap merupakan sesuatu yang berada di luar kuasanya. Begitu pula anak. Orang tua dapat mengajarkan Alquran, tetapi tidak dapat memaksa hidayah masuk ke dalam hati. Orang tua dapat memberikan sekolah terbaik, tetapi tidak dapat membeli akhlak. Orang tua dapat memberikan nasihat, tetapi tidak dapat menjamin setiap nasihat langsung diterima. Maka tugas kita adalah menanam sebaik mungkin. Sedangkan hasil akhirnya tetap kita serahkan kepada Allah. Keluarga Imran juga seperti mata air.

 

Air yang muncul di satu tempat dapat mengalir jauh melampaui sumbernya. Seseorang yang menanam kebaikan dalam rumah mungkin tidak pernah tahu sejauh mana kebaikan itu akan berjalan. Satu doa seorang ibu dapat menyertai anak selama bertahun-tahun. Satu pelukan seorang ayah pada saat yang tepat dapat menjadi ingatan yang menyelamatkan anak ketika kelak menghadapi masa sulit. Satu kebiasaan shalat berjamaah mungkin baru terasa nilainya ketika anak telah memiliki rumahnya sendiri. Kita sering tidak mengetahui seberapa jauh sesuatu yang kecil di rumah akan mengalir.

 

Data 25,8 persen tentang fatherless terasa mengkhawatirkan. Namun barangkali ia perlu kita baca bukan sekadar sebagai statistik, tetapi sebagai cermin. Pertanyaannya bukan hanya: apakah ada ayah di rumah? Pertanyaannya juga: apakah ayah hadir? Apakah seorang anak dapat menceritakan kegagalannya tanpa takut dihina? Apakah ayah mengetahui nama sahabat anaknya? Apakah ia mengetahui apa yang membuat anaknya menangis? Apakah ia pernah mengatakan bahwa ia mencintai anaknya? Apakah ia memberikan contoh tentang bagaimana seorang laki-laki memperlakukan perempuan dengan hormat? Apakah ia hanya bertanya tentang nilai sekolah, atau juga bertanya tentang shalat? Namun tadabur keluarga Imran juga mengingatkan agar persoalan ini tidak berubah menjadi tudingan kepada ayah semata. Tidak semua ketidakhadiran terjadi karena kelalaian. Ada ayah yang harus bekerja jauh. Ada keluarga yang tercerai karena kematian. Ada perceraian. Ada kemiskinan yang memaksa orang tua meninggalkan rumah berbulan-bulan. Ada keadaan yang tidak dipilih oleh keluarga. Karena itu angka harus membuat kita berempati, bukan menghakimi. Yang dapat kita tanyakan adalah: dalam keadaan apa pun yang Allah berikan kepada keluarga kita, apa yang masih dapat kita hadirkan untuk anak-anak?


 


Indonesia sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Tanggal itu masih hampir dua dekade dari sekarang. Namun anak yang akan menjadi pemimpin, guru, ulama, dokter, pengusaha, peneliti, tentara, wartawan, atau orang tua pada tahun itu sedang duduk di meja makan keluarga hari ini. Sebagian masih digendong. Sebagian sedang belajar berjalan. Sebagian baru memasuki sekolah. Sebagian sedang menjadi remaja dan diam-diam mencari siapa yang dapat mereka jadikan teladan. Generasi 2045 tidak tiba-tiba muncul pada 2045. Ia sedang dibentuk sekarang. Di ruang keluarga. Di meja makan. Di perjalanan menuju sekolah. Di percakapan kecil sebelum tidur. Di cara seorang ayah meminta maaf. Di cara seorang ibu berdoa. Di cara kedua orang tua menghadapi perselisihan. Mungkin itulah sebabnya pernyataan bahwa investasi terbesar bangsa dimulai dari keluarga terasa sangat masuk akal. Negara dapat membangun sekolah, menyediakan layanan kesehatan, membuka lapangan pekerjaan, dan membuat program pengasuhan, tetapi ada ruang tertentu dalam jiwa anak yang pertama kali disentuh oleh rumah.

 

QS Ali ‘Imran ayat 33 membuat saya kembali kepada satu pertanyaan. Apa yang sebenarnya ingin kita wariskan? Rumah? Tanah? Tabungan? Nama keluarga? Pendidikan? Semua itu dapat menjadi nikmat. Namun keluarga Imran meninggalkan warisan yang sama sekali berbeda. Iman. Pengabdian. Doa. Dan manusia yang hidupnya diarahkan kepada Allah. Berapa banyak orang yang mengetahui seperti apa rumah Imran? Kita bahkan tidak mewarisi gambaran tentang kekayaan keluarga itu. Namun ribuan tahun kemudian, manusia di berbagai penjuru bumi masih membaca nama mereka dalam shalat dan tilawah.

 

وَآلَ عِمْرَانَ

 

“Dan keluarga Imran.”

 

Ada keluarga yang meninggalkan bangunan. Ada keluarga yang meninggalkan perusahaan. Ada keluarga yang meninggalkan kekuasaan. Keluarga Imran meninggalkan jejak iman. Data fatherless mungkin membuat kita khawatir. Gerakan Ayah Teladan Indonesia mungkin mengingatkan para ayah untuk kembali hadir dalam pengasuhan, dan program-program pemerintah dapat membantu keluarga memahami kembali pentingnya peran orang tua. Tetapi Alquran membawa kita lebih jauh. Ia tidak hanya bertanya apakah ayah hadir. Ia tidak hanya bertanya apakah ibu hadir. Ia seakan mengajak kita bertanya : Apakah Allah hadir dalam orientasi keluarga kita? Kita mungkin telah mempersiapkan sekolah anak. Sudahkah kita mempersiapkan imannya?

 

Kita mungkin memikirkan pekerjaan apa yang kelak akan membuatnya mapan. Pernahkah kita bertanya manusia seperti apa yang kita berharap ia menjadi di hadapan Allah? Kita mungkin bekerja keras meninggalkan sesuatu untuk anak-anak. Tetapi pernahkah kita memikirkan apa yang ingin kita tinggalkan di dalam diri mereka? Tidak semua keluarga akan dikenal manusia. Sebagian besar nama kita mungkin akan hilang beberapa generasi setelah kita meninggal. Dan mungkin itu tidak masalah. Sebab tujuan membangun keluarga bukan agar nama keluarga kita menjadi besar. Kita hanya berharap rumah kecil yang Allah titipkan kepada kita menjadi tempat tumbuhnya manusia yang mengenal-Nya. Kita tidak mampu memastikan anak-anak menjadi seperti Maryam. Kita tidak mempunyai hak menuntut Allah agar keluarga kita menjadi seperti keluarga Imran. Kita bahkan tidak mampu menjamin bagaimana jalan hidup anak-anak setelah kita tidak lagi bersama mereka. Tetapi kita masih bisa meniru sesuatu yang sangat sederhana dari rumah itu. Berdoa sebelum anak lahir. Menanam kebaikan ketika ia tumbuh. Hadir ketika ia membutuhkan. Mengarahkannya kepada Allah. Kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Sebab ayat tentang keluarga pilihan itu tidak dimulai dengan kesombongan manusia tentang keberhasilan mendidik keturunan. Ia dimulai dengan pengakuan tentang siapa yang memegang seluruh hasil akhirnya:

 

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ

 

“Sesungguhnya Allah telah memilih.”

 

Maka di tengah kekhawatiran tentang generasi fatherless dan cita-cita besar membangun Generasi Emas 2045, barangkali kita perlu kembali memulainya dari tempat yang paling sederhana. Dari rumah. Dari kehadiran seorang ayah. Dari doa seorang ibu. Dari teladan yang dilihat anak setiap hari. Dan dari kesadaran bahwa keluarga bukan sekadar tempat kita berasal. Keluarga adalah tempat sebuah generasi mulai diarahkan ke mana ia akan berjalan.

 

Sumber : https://iqra.republika.co.id/ 

Comments