Orang Pertama yang Merayakan Maulid Nabi

 

Setiap memasuki bulan Rabiulawal, kemeriahan gema sholawat dan lantunan puji-pujian untuk Nabi Muhammad SAW terdengar merdu di seantero negeri. Tradisi peringatan Maulid Nabi yang kita jalankan hari ini terasa begitu akrab dan hangat. Namun, pernahkah detikers bertanya, siapa sebenarnya sosok pertama yang merayakan hari kelahiran Sang Rasul dalam sejarah peradaban Islam ? Mengutip buku Bersama Nabi Muhammad SAW karya KH Husein Muhammad SAW, perayaan Maulid secara besar-besaran berkembang melalui tiga tokoh utama, yaitu :

 

Raja al-Muzhaffar Abu Sa'id Kaukibri

Ibn Khalikan dalam kitab Wafayat al-A'yan menyatakan, "Imam al-Hafizh Ibnu Dihyah, seorang tokoh ulama termasyhur, datang dari Maroko menuju Syam, dan kemudian ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, ia mendapati Sultan al-Muzhaffar, Raja Irbil tersebut, memberikan perhatian sangat besar terhadap perayaan Maulid Nabi SAW. Ibnu Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi SAW yang diberi judul at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir. Karya ini dipersembahkan untuk Sultan al-Muzhaffar, dan sang Sultan memberinya 1000 dinar."

 

Dinasti Fatimiyah di Mesir

Penguasa Dinasti Fatimiyah di Mesir merupakan pihak pemerintah pertama yang menjadikan perayaan Maulid Nabi sebagai tradisi resmi negara. Biasanya perayaan paling ramai diadakan di masjid al-Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib.

 

Sultan Salahuddin Al-Ayyubi

Sultan Salahuddin memanfaatkan peringatan Maulid Nabi sebagai strategi membakar semangat jihad dan mempererat persatuan prajurit muslim yang kala itu sedang menghadapi Perang Salib. Beliau menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi SAW beserta puji-pujian bagi Nabi SAW dengan bahasa yang indah. Pemenang sayembara tersebut adalah Syekh Ja'far al-Barzanji. Mulanya, karya tersebut diberi judul Iqd al-Jawahir, tetapi lama-kelamaan orang lebih suka menyebut nama pengarangnya. Karya tersebut kemudian dikenal luas sebagai Maulid Barzanji hingga saat ini.

 

Mengutip laman NU Online, merayakan hari kelahiran Rasulullah SAW dengan niat yang ikhlas mendatangkan berbagai kemuliaan luar biasa di dunia maupun akhirat :

 

Dibangkitkan Bersama Orang-orang Saleh di Surga

Imam Yafi'i dalam kitab I'anatut Thalibin berkata, "Orang yang mengumpulkan saudara-saudara untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, menyediakan makanan, menyediakan tempat, melakukan kebaikan, dan menjadi sebab dibacanya Maulid Nabi, maka Allah akan membangkitkannya di hari kiamat bersama orang-orang yang saleh dan berada di surga."

 

Memperoleh Naungan Taman Surga

Syekh Sirri As-Saqati menyatakan bahwa orang yang melangkahkan kakinya menuju tempat pembacaan Maulid Nabi dengan rasa cinta (mahabbah), maka sungguh ia telah menuju ke salah satu taman dari taman-taman surga.

 

Mendapatkan Keringanan Azab

Bahkan Abu Lahab yang kafir pun diringankan siksanya setiap hari Senin di alam kubur karena pernah bergembira dan memerdekakan budaknya (Tsuwaibah) saat mendengar kelahiran Nabi SAW. Seorang muslim yang bergembira atas kelahiran Nabi tentu mendapat ganjaran rahmat yang jauh lebih agung.

 

Adab dalam Peringatan Maulid

Syekh Ahmad bin Muhammad al-Qasthalani dalam kitab al-Mawahibul Ladunniyah bil Minah al-Muhammadiyah menjelaskan adab dan hal-hal yang wajib diperhatikan saat memperingati maulid : "Merupakan sebuah kewajiban bagi semua orang mukmin ketika menyebutnya (nama nabi) atau disebutkan kepadanya untuk menundukkan diri, khusyuk, memuliakan, duduk dengan sopan dan beretika dengan sopan dan penuh wibawa sebagaimana etika yang ia pakai andaikan berada di hadapan nabi." Syekh al-Qasthalani menjelaskan khusyuk, penuh penghayatan, memuliakan dan duduk dengan sopan ketika pembacaan maulid merupakan salah satu tanda kecintaan setiap orang kepadanya.

Wallahu a'lam

 

Sumber : https://www.detik.com/hikmah 

Comments