Peringatan Syariat Islam Bagi Para Perusak Bumi

 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali mengancam lingkungan dan masyarakat, khususnya di Kalimantan, menjadi pengingat penting tentang amanah manusia dalam menjaga bumi. Dalam pandangan Islam, lingkungan bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan bagian dari ciptaan Allah SWT yang harus dipelihara. Karena itu, segala bentuk perusakan lingkungan yang dilakukan manusia sejatinya merupakan tindakan yang menyimpang dari tujuan syariat Islam. Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya 'Islam Agama Ramah Lingkungan' menegaskan, menjaga lingkungan merupakan bagian dari menjaga agama (hifzh ad-din). Setiap upaya memelihara bumi adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sedangkan perusakan lingkungan mencederai amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi. Di tengah krisis ekologis yang kian nyata dan dampaknya merenggut banyak nyawa manusia, Islam sudah mengingatkan bahwa merawat bumi bukan sekadar urusan etika sosial, tetapi bagian dari menjaga agama itu sendiri. Sebagaimana dijelaskan Syekh Yusuf Al-Qaradhawi, setiap tindakan yang memelihara lingkungan adalah wujud ketaatan, sementara setiap kerusakan yang dilakukan manusia justru mencederai amanah kekhalifahan yang Allah SWT titipkan.

 

Ia menerangkan, segala usaha pemeliharaan lingkungan sama halnya dengan usaha menjaga agama. Ajaran menjaga lingkungan termasuk dalam kategori yang sangat mendasar dalam agama. Perbuatan dosa yang dapat mencemari lingkungan akan menodai substansi dari keberagamaan yang benar, dan secara tidak langsung meniadakan tujuan eksistensi manusia di permukaan bumi ini. Sekaligus juga menyimpang dari perintah Allah SWT dalam konteks hubungan baiknya dengan sesama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (QS An-Nahl Ayat 90)

 

Perbuatan merusak lingkungan juga menodai fungsi kekhalifahan yang dibebankan pada manusia, karena bumi ini bukan milik mereka, tapi milik Allah SWT. Maka manusia sebagai khalifah di muka bumi dituntut menjalankan segala perintah Allah SWT sesuai dengan hukum-hukum ciptaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ  ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ  ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan. (QS Az-Zumar Ayat 10)

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

وَيٰقَوْمِ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيْبٌ

 

"Wahai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat untukmu. Oleh karena itu, biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu memperlakukannya dengan buruk yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa azab.” (QS Hud Ayat 64)

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوْاۚ اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ ۗيُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

 

Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A'raf Ayat 128)

 

Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik, yakni surga) itu (disediakan) bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Qasas Ayat 83)

 

Membaca ayat-ayat Alquran tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia tidak boleh lupa bahwa ia diangkat menjadi khalifah karena kekuasaan Allah SWT. Tidak sepantasnyalah manusia bertindak seakan-akan mereka adalah raja diraja yang tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa-apa yang telah dikerjakannya selama hidup di bumi. Selain itu, penyelewengan terhadap lingkungan secara implisit juga telah menodai perintah Allah SWT untuk membangun bumi, memperbaikinya, dan melarang segala bentuk perbuatan yang dapat merusak serta membinasakannya. Tentang hal ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

 

Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-A'raf Ayat 56)

 

Maka, Allah SWT telah banyak menerangkan bahwa Dia tidak akan memberikan ridha dan pahalanya pada orang-orang yang bersikap congkak di atas bumi.

 

Sumber : https://khazanah.republika.co.id/ 

Comments