Ketua
Fatwa MUI Kota Surakarta, KH Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, mengingatkan umat
Islam agar tidak memahami sabar dalam menghadapi musibah sebagai sikap pasrah
tanpa ikhtiar. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah
Surakarta tersebut mengatakan, Islam mengajarkan umat untuk bersabar ketika
menghadapi kesulitan sekaligus tetap melakukan berbagai upaya untuk mengatasi
dampak musibah. “Dalam menghadapi musibah terdapat satu pemahaman yang juga
perlu diluruskan : sabar bukan berarti diam dan menyerah,” ujarnya kepada
Republika.co.id, Senin (14/9/2026). Gus Mustain menjelaskan, kehidupan seorang
mukmin bergerak antara sabar dan syukur. Ketika mendapatkan nikmat, seorang
Muslim bersyukur. Sementara ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar dan tetap
berusaha. Ia mengutip penjelasan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Iḥyā’
‘Ulūm ad-Dīn:
الْمُؤَيِّدِ
صَفْوَةَ الْأَوْلِيَاءِ بِقُوَّةِ الصَّبْرِ عَلَى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَالشُّكْرِ
عَلَى الْبَلَاءِ وَالنَّعْمَاءِ.
Artinya:
“Allah yang menguatkan hamba-hamba pilihan-Nya dengan kekuatan sabar dalam
keadaan lapang maupun sulit, serta dengan syukur dalam menghadapi cobaan maupun
kenikmatan.” (Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Kitāb aṣ-Ṣabr wa asy-Syukr, Juz
IV).
Menurut
Gus Mustain, sikap menghadapi musibah juga memiliki tingkatan spiritual. Ia
mengutip Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah yang menjelaskan bahwa respons manusia
terhadap musibah dapat bergerak dari sabar menuju ridha dan syukur.
الْمَقَامُ
الثَّانِي: مَقَامُ الصَّبْرِ... الْمَقَامُ الثَّالِثُ: مَقَامُ الرِّضَى، وَهُوَ
أَعْلَى مِنْ مَقَامِ الصَّبْرِ... الْمَقَامُ الرَّابِعُ: مَقَامُ الشُّكْرِ، وَهُوَ
أَعْلَى مِنْ مَقَامِ الرِّضَى.
Artinya:
“Tingkatan kedua adalah maqam sabar... tingkatan ketiga adalah maqam ridha, dan
ia lebih tinggi daripada maqam sabar... sedangkan tingkatan keempat adalah
maqam syukur, dan ia lebih tinggi daripada maqam ridha.”
Ia
kemudian mengutip penjelasan Ibnu Qayyim:
فَإِنَّهُ
يَشْهَدُ الْبَلِيَّةَ نِعْمَةً، فَيَشْكُرُ الْمُبْتَلِيَ عَلَيْهَا.
Artinya:
“Ia mampu memandang cobaan itu sebagai suatu nikmat, sehingga ia bersyukur
kepada Allah yang mengujinya.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ‘Uddat aṣ-Ṣābirīn wa
Dzakhīrat asy-Syākirīn, Juz I, hlm. 119 pada edisi digital yang dirujuk).
Gus
Mustain menilai kemampuan memandang hikmah di balik musibah merupakan tingkatan
spiritual yang tinggi. Namun, bagi korban yang sedang berada dalam kondisi
sulit, hal paling penting adalah memastikan mereka tidak kehilangan harapan
kepada Allah SWT. Ia mengutip penjelasan Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi:
وَإِنَّمَا
قَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ بِشَيْءٍ لِيُؤْذِنَ أَنَّ كُلَّ بَلَاءٍ أَصَابَ الْإِنْسَانَ
وَإِنْ جَلَّ فَفَوْقَهُ مَا يُقَلَّلُ إِلَيْهِ، وَلِيُخَفِّفَ عَلَيْهِمْ وَيُرِيَهُمْ
أَنَّ رَحْمَتَهُ مَعَهُمْ فِي كُلِّ حَالٍ.
Artinya:
“Allah mengungkapkannya dengan kata ‘sedikit/sebagian’ untuk menunjukkan bahwa
setiap cobaan yang menimpa manusia, betapapun besarnya, masih ada yang lebih
besar darinya; sekaligus untuk meringankan mereka dan memperlihatkan bahwa
rahmat-Nya tetap bersama mereka dalam setiap keadaan.” (An-Nasafi, Madārik
at-Tanzīl wa Ḥaqā’iq at-Ta’wīl, tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 155, Juz I).
Karena
itu, Gus Mustain berpesan agar umat Islam tidak membiarkan musibah memutus
harapan para korban. “Rumah boleh hilang, tetapi harapan jangan hilang. Harta
boleh berkurang, tetapi iman jangan berkurang. Air mata boleh jatuh, tetapi
hubungan dengan Allah jangan terputus,” jelasnya. Ia menegaskan, menghadapi
musibah dalam perspektif Islam bukan hanya persoalan menerima kenyataan, tetapi
juga bagaimana manusia memperkuat hubungan dengan Allah, melakukan introspeksi,
dan bergerak memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.
Sumber : https://khazanah.republika.co.id/

Comments
Post a Comment