Jangan Pakai ChatGPT untuk Mengerjakan Tugas-Tugas Ini

 

Chatbot Artificial Intelligence (AI) kenamaan buatan OpenAI, ChatGPT semakin pintar dan mampu mengerjakan banyak tugas, seperti mengolah teks, merangkum dokumen, menyusun code, mengolah gambar, dan lainnya. Berbagai tugas bisa dikerjakan dengan mudah di ChatGPT. Pengguna tinggal memasukkan perintah dan ChatGPT bakal menyajikan responsnya. Meski serbaguna dan mudah dipakai, tak berarti ChatGPT mengerjakan semua tugas. Ada beberapa pekerjaan yang sebaiknya tidak diserahkan ke ChatGPT, terutama yang menyangkut informasi sensitif atau membutuhkan keputusan yang akurat. Lantas, tugas apa saja yang sebaiknya tidak diserahkan kepada ChatGPT ? Ini daftarnya.

 

1. Meminta saran hukum

ChatGPT bisa menjelaskan istilah atau konsep hukum dengan bahasa yang lebih sederhana. Namun, chatbot ini sebaiknya tidak dijadikan pengganti pengacara ketika seseorang menghadapi persoalan hukum. ChatGPT dapat menghasilkan informasi yang terdengar masuk akal, tetapi ternyata tidak memiliki dasar hukum yang valid. Padahal, dalam masalah hukum, kesalahan kecil sekalipun bisa berakibat serius. Peneliti hukum dan data science Damien Charlotin pernah membuat database yang berisi lebih dari 2.000 putusan atau perkara di berbagai negara yang bermasalah akibat penggunaan ChatGPT. Salah satu persoalannya adalah munculnya kutipan, preseden, atau argumen hukum yang ternyata dibuat-buat oleh AI. Parahnya, masalah tersebut tidak hanya terjadi ketika masyarakat umum menggunakan ChatGPT. Sejumlah pengacara juga pernah menggunakan informasi yang dihasilkan chatbot dan kemudian diketahui tidak akurat. Dengan begitu, jika menyangkut kasus hukum, konsultasi dengan profesional tetap menjadi pilihan yang lebih aman.

 

2. Menjadikan ChatGPT sebagai psikolog atau konselor

Meski bisa diajak curhat, ChatGPT bukan pengganti psikolog, psikiater, atau terapis. Dengan ChatGPT, pengguna bisa menceritakan masalahnya kapan saja tanpa perlu membuat janji atau bertemu langsung dengan orang lain. Namun, ada keterbatasan yang perlu dipahami. ChatGPT hanya merespons berdasarkan informasi yang diberikan pengguna. Respons yang terdengar empatik belum tentu berarti chatbot benar-benar memahami kondisi orang yang sedang berbicara dengannya. Kondisi yang cukup mengkhawatirkan jika ChatGPT dijadikan psikolog atau konselor adalah chatbot memiliki kecenderungan untuk menyetujui keyakinan pengguna. Dalam kondisi tertentu, respons seperti itu berpotensi memperkuat pemikiran yang keliru. Oleh karena itu, ChatGPT sebaiknya digunakan untuk mencari informasi umum, bukan sebagai pengganti bantuan profesional ketika seseorang menghadapi masalah kesehatan mental yang serius.

 

3. Mengolah dokumen rahasia perusahaan

Berikutnya, tugas atau pekerjaan yang tidak disarankan dikerjakan menggunakan ChatGPT adalah mengolah dokumen rahasia perusahaan. Pengguna kadang diminta untuk memahami dokumen rahasia perusahaan yang panjang. Agar cepat, dokumen penting itu malah dimasukkan ke ChatGPT. Padahal, dokumen perusahaan bisa berisi data penting, seperti kontrak, data pelanggan, laporan internal, atau dokumen yang dilindungi perjanjian kerahasiaan Jadi, pengguna sebaiknya tidak sembarangan memasukkan dokumen ke ChatGPT untuk diolah. Sebelum mengunggah, pastikan dokumen yang hendak diolah tidak mengandung data krusial.

 

4. Mendiagnosis penyakit atau meminta saran medis

Pengguna jangan pernah menganggap ChatGPT adalah dokter. Oleh karena itu, pengguna sebaiknya tidak meminta ChatGPT untuk melakukan diagnosis penyakit dan memberikan saran medis. ChatGPT tidak melakukan pemeriksaan fisik dan tidak memiliki gambaran lengkap mengenai kondisi seseorang. Jawabannya pun bisa saja salah meski disampaikan dengan bahasa yang terdengar meyakinkan. Terdapat kasus seorang pria berusia 60 tahun yang meminta bantuan ChatGPT terkait upaya mengurangi klorida dalam makanannya. Ia kemudian mengganti garam meja dengan sodium bromide dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit karena keracunan. Jika mengalami gangguan kesehatan dan perlu pengobatan, pengguna tetap harus mengutamakan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

 

5. Memasukkan password, username, atau data pribadi

Pengguna juga sebaiknya tidak mengerjakan tugas menggunakan ChatGPT jika tugas itu mengandung password, username, nomor identitas, paspor, informasi rekening, atau data pribadi sensitif lainnya. Masalahnya, jika percakapan dengan ChatGPT yang mengandung data sensitif bocor, keamanan pengguna ikut terancam. Untuk diketahui, perusahaan media asal AS, Fast Company pernah menemukan 4.500 percakapan pengguna dengan ChatGPT muncul di Google. Meski sudah dihapus OpenAI, kejadian semacam ini bisa berulang. Dengan begitu, pengguna jangan pernah melakukan percakapan dengan ChatGPT terkait data-data pribadi yang penting untuk menjaga keamanan.

 

Sumber: https://tekno.kompas.com 

Comments