Perbedaan
pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan manusia. Perbedaan sudut
pandang dan pola pikir terkadang memicu perselisihan. Meski begitu, Islam
mengajarkan umatnya untuk tetap menjaga silaturahmi dan persaudaraan. Ada
beberapa adab yang perlu diperhatikan muslim saat berbeda pendapat agar tidak
menimbulkan permusuhan.
Adab
Muslim saat Berbeda Pendapat
Mengutip
buku Tarbiyah : Menyiapkan Santri Menjadi Guru Pembina, Pemimpin, dan Penggerak
Kebaikan karya Ustadz Yusuf Iskandar dan buku 93 Teknik dan Adab Menguruskan
Perbezaan Pendapat dalam Dakwah karya Mohammad Zulkifli Abdul Ghani, berikut
lima adab yang harus diperhatikan saat berbeda pendapat.
1.
Meluruskan Niat dan Menjaga Keikhlasan
Keikhlasan
hati menjadi adab utama saat menghadapi perbedaan pendapat. Mengutip kitab
Risalah Al-Mustarsyidin karya Imam Al-Muhasibi, seorang muslim hendaknya
meluruskan niat untuk mencari kebenaran dan kebaikan bersama, bukan sekadar
memenangkan perdebatan atau menonjolkan diri. Tanpa keikhlasan, seseorang mudah
terbawa emosi dan mempertahankan pendapatnya meskipun keliru.
2.
Belajar Mendengarkan dengan Lapang Dada
Seorang
muslim yang bijak harus memiliki keterampilan mendengarkan. Mendengar bukan
berarti harus selalu setuju, melainkan memberi kesempatan kepada orang lain
untuk menjelaskan maksud dan argumennya sampai selesai tanpa dipotong atau
direndahkan. Imam Al-Muhasibi juga menambahkan pentingnya berlapang dada dalam
menerima kritik atau teguran yang membangun. Setiap masukan hendaknya ditelaah
dengan hati yang tulus dengan menjadikan Al-Qur'an dan hadits sebagai pedoman
utama, bukan ditanggapi dengan emosi atau rasa gengsi.
3.
Mengutamakan Musyawarah dan Berbaik Sangka
Mengelola
perbedaan pendapat memerlukan wadah yang sehat, yaitu musyawarah. Allah SWT
berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 38 yang menegaskan bahwa urusan kaum
beriman diputuskan melalui musyawarah di antara mereka.
وَالَّذِيْنَ
اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ
وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ
"(juga
lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan
Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami
anugerahkan kepada mereka."
Musyawarah
melatih setiap orang untuk menyampaikan gagasan secara sopan dan menerima
keputusan dengan lapang dada. Keutamaan musyawarah ini ditegaskan oleh Imam
Al-Mawardi dalam kitab Adab ad-Dunya wad-Din, "Barang siapa bermusyawarah
dengan orang-orang yang berakal, ia akan mendapatkan cahaya dari akal-akal
mereka." Selain bermusyawarah, prinsip berbaik sangka harus selalu dijaga.
Jangan terburu-buru menuduh, mencela, atau memvonis salah orang yang berbeda
pandangan. Boleh jadi mereka belum mengetahui informasi yang utuh atau memiliki
dasar pertimbangan lain yang belum kita pahami.
4.
Berusaha Menyatukan Pendapat dan Menjauhi Perdebatan
Seorang
muslim hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk menyatukan berbagai sudut
pandang yang ada selama masih berada di atas koridor syariat. Hindari
membesar-besarkan masalah khilafiyah yang berpotensi memantik fitnah dan
merusak ukhuwah. Berpegang teguh pada etika berdialog dan menjauhi sikap saling
bantah yang kasar adalah kunci menjaga kedamaian. Namun, jika terdapat pendapat
yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam, seorang muslim wajib
mengambil pandangan yang benar dan meninggalkan yang salah tanpa sikap keras
kepala.
5.
Berjiwa Besar Menerima Kebenaran
Adab
penting saat berbeda pendapat adalah bersikap rendah hati dan bersedia menerima
kebenaran dari siapa pun. Jika dalam diskusi pendapat orang lain terbukti lebih
tepat, seorang muslim hendaknya menerimanya dengan lapang dada. Imam
Al-Muhasibi juga mengingatkan agar seseorang tidak menyimpan dendam atau sakit
hati setelah berdiskusi hanya karena pendapatnya tidak diterima. Sikap tersebut
dapat merusak silaturahmi dan persaudaraan.
Wallahu
a'lam.
https://www.detik.com/hikmah

Comments
Post a Comment